Tampilkan postingan dengan label Berat Badan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berat Badan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Oktober 2014

Mengapa Sering Makan di Restoran Bikin Gemuk?

Mengapa Sering Makan di Restoran Bikin Gemuk?
Untuk menjaga berat badan tetap ideal, kalori yang diasup tidak boleh melebihi kebutuhan kalori harian. Namun ada pula hal yang membuat orang "terpaksa" makan lebih banyak daripada jumlah kalori yang ia butuhkan. Bahkan terkadang orang tidak sadar makan lebih banyak.

Sebuah studi baru menemukan, orang yang sering makan di luar rumah cenderung makan lebih banyak daripada porsi makan ketika di rumah. Studi menemukan, orang yang terbiasa makan di luar rata-rata makan 200 kalori lebih banyak dalam sehari, termasuk lemak jenuh, gula, dan garam yang lebih banyak.

Kendati demikian, studi tersebut memiliki keterbatasan. Pasalnya studi tidak menjabarkan seberapa buruk kebiasaan makan di luar mempengaruhi kesehatan jika dibandingkan dengan orang yang terbiasa memasak sendiri. Selain itu, studi tidak menjelaskan keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari makan di luar, misalnya sosialisasi dan stres yang berkurang dari kegiatan memasak.

Menurut Lisa Powell, profesor peraturan dan administrasi kesehatan dari University of Illinois, Chicago, temuan ini memberikan pengertian lebih baik pada peran restoran terhadap pola makan. Kini lebih banyak orang makan di luar rumah dan laju obesitas pun kian meningkat.

Makan di luar seharusnya tidak menjadi masalah ketika makanan yang dimakan tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan makanan di rumah. Namun studi justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Rata-rata orang yang makan di restoran mengonsumsi 194 hingga 205 kalori tambahan setiap harinya. Mereka juga mengonsumsi lebih banyak lemak jenuh sekitar 2,5-3 gram, dan garam 296-451 miligram.

Lantas dari mana kalori tambahan tersebut berasal? Powell menjelaskan, makanan di restoran biasanya lebih padat, porsi lebih besar, lebih banyak kalori kosong dan minuman manis.

Susan Roberts, direktur di Energy Metabolism Laboratory di departemen pertanian AS, mengatakan, orang yang makan di restoran umumnya mengonsumsi makanan lebih banyak daripada yang mereka ingin makan. Ini karena sulit mengestimasi ukuran porsi makanan yang tersaji di restoran saat hanya melihat dari daftar menu.

"Orang selalu menganggap remeh makanan porsi besar, sehingga banyak orang yang tidak sadar ia telah makan lebih banyak dari yang seharusnya ia makan," ujarnya.

Meski begitu, sebetulnya makan di restoran masih dapat dilakukan tanpa harus khawatir meningkatan berat badan. Powell menyarankan untuk memesan setengah porsi dengan tambahan sayur-sayuran dan salad daripada goreng-gorengan. Selain itu, Anda juga lebih baik memilih minum air putih daripada minuman manis sebagai pelengkap makan.

Sumber : health.kompas.com

Senin, 15 September 2014

Kalahkan Stres yang Memicu Kegemukan

Kalahkan Stres yang Memicu Kegemukan
Stres berlebihan dan berkepanjangan adalah hal yang buruk karena bisa menyebabkan sakit kepala, tegang otot, gangguan pencernaan, kesulitan tidur, depresi, bahkan kini sebuah studi baru menunjukkan hal itu dapat membebani metabolisme tubuh.
Telah lama kita mengetahui hubungan stres dengan peningkatan berat badan. Kadar hormon stres yang meningkat dapat meningkatkan nafsu makan, khususnya untuk makanan-makanan yang tidak sehat. Padahal makanan-makanan itu sangat mudah untuk membuat akumulasi lemak perut.
Bahkan, sebuah studi baru asal Ohio State mengungkapkan, stres juga mengakibatkan pembakaran kalori tubuh yang lebih sedikit. Dalam studi ini, peneliti menanyakan pada sejumlah wanita tentang stres yang dialaminya di hari sebelumnya sekaligus makanan yang dimakannya. Rata-rata wanita makan 930 kalori dengan 60 gramnya berasal dari lemak.
Setelah makan, peneliti mengukur laju metabolisme mereka dengan mengambil sampel darah. Mereka yang melaporkan stres di hari sebelumnya ternyata membakar lemak yang mereka makan lebih sedikit daripada yang tidak merasa stres. Mereka juga memiliki kadar insulin yang lebih tinggi, hormon yang berkontribusi untuk menyimpanan lemak.
Mereka juga membakar 104 kalori lebih sedikit. Kelihatannya tidak banyak, namun dengan membakar kalori sejumlah tersebut lebih sedikit dalam satu tahun, seseorang bisa menambah berat badannya sebanyak 5 kilogram selama satu tahun.
Namun sebenarnya, kondisi ini tidak harus terjadi. Meski tidak bisa menghindari stres, namun paling tidak kita bisa meminimalkan dampaknya terhadap lingkar pinggang kita.
1. Pilih lemak dengan bijak
Jika stres bisa menyebabkan tubuh membakar lemak lebih sedikit, maka yang harus dilakukan untuk menghindari perut yang membuncit adalah dengan memilih lemak yang lebih sehat, misalnya yang berasal dari minyak zaitun atau alpukat. Jika ingin ngemil, maka pilihlah kacang-kacangan daripada popcorn. Memilih produk-produk bebas lemak juga dapat membantu.
2. Makan makanan yang mempercepat laju metabolisme
Beberapa makanan diketahui dapat meningkatkan laju metabolisme, meskipun dampaknya tidak selalu seimbang dengan bagaimana stres dapat memperlambat metabolisme. Makanan pedas seperti cabai atau paprika sudah dikenal dapat meningkatkan laju metabolisme. Bahkan makanan ini dapat meningkatkan imunitas dan menurunkan kadar kolesterol.
3. Tarik napas sebelum makan
Bernapas memang hal alami yang dilakukan tanpa sadar. Namun mengambil napas panjang dan terkontrol dapat membuat tubuh rileks dan mengurangi kadar kortisol. Melakukannya sebelum makan akan membantu meringankan tegang di otot dan mengurangi sedikit stres, paling tidak selagi tubuh memasukkan makanan.
4. Jalan singkat setelah makan
Kapanpun bisa, usahakan untuk melakukan jalan cepat selama 15 menit setelah makan. Studi membuktikan, kebiasaan ini dapat membantu menormalkan kadar gula darah hingga tiga jam setelah makan.
Sumber : health.kompas.com

Bahaya Perut Buncit pada Pria

Bahaya Perut Buncit pada Pria
Jika dulu orang yang ekonominya makmur digambarkan dengan kondisi perut buncit, kini pria yang memiliki perut buncit justru menunjukkan kesadarannya yang rendah akan gaya hidup sehat. 

Jika Anda termasuk dalam orang yang perutnya bergelambir, Anda tidak sendiri. Tetapi Anda jangan bangga dengan lebarnya lingkar perut. Tumpukan lemak di perut harus diwaspadai, karena sejatinya Anda sedang menumpuk bahaya.

Seseorang disebut memiliki perut buncit jika ukurannya lebih dari 95 cm, sementara pada wanita lebih dari 80 cm.

"Lemak di perut bukan terbatas pada lapisan lemak yang berada di bawah kulit (lemak subkutan), tapi juga termasuk lemak viseral yang berada di bawah perut dan menyelimuti organ-organ dalam," kata Michael D.Jensen, ahli endokrinologi dari Mayo Clinic, Rochester, AS.

Orang yang berperut buncit memiliki risiko lebih besar menderita penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes melitus, kanker kolorektal, serta henti napas saat tidur (sleep apnea).

Sebenarnya, apa yang membuat perut buncit? Tentu saja ini sangat dipengaruhi oleh asupan kalori yang masuk dan energi yang dibakar. Jika Anda makan terlalu banyak tapi jarang bergerak, tentu saja kelebihan kalori itu akan disimpan sebagai lemak.

Faktor usia juga berpengaruh. Bertambahnya usia akan membuat kita kehilangan otot, terutama jika kurang berolahraga dan lebih banyak duduk. Berkurangnya massa otot akan menurunkan kecepatan tubuh menggunakan kalori. 

Kemampuan sel lemak di tangan dan kaki juga akan berkurang dalam menyimpan lemak, sehingga jika ada kelebihan lemak ia akan turun ke perut. 

Berbagai penelitian menunjukkan, lemak yang disimpan dalam perut ini tidak berfungsi sebagai cadangan tenaga seperti halnya lemak di bagian tubuh lainnya. Lemak viseral ini secara biologis sangat aktif dan menghasilkan hormon dan zat kimia tertentu sehingga menyebabkan gangguan keseimbangan hormonal, gangguan metabolisme, dan lain sebagainya. 

Zat dan hormon yang dihasilkan lemak perut ini juga bisa memicu peradangan (inflamasi). Hal ini pada akhirnya bisa memicu berbagai penyakit.

Mengingat bahaya yang tersimpan di lemak perut, maka jangan biarkan lemak bercokol lama. Setiap lemak perut bisa dihilangkan, yang dibutuhkan adalah usaha dan kesabaran. 

Lakukan perubahan pola hidup. Mulailah membatasi porsi makan dan lebih banyak bergerak. Selain berolahraga rutin, jangan isi sebagian besar waktu Anda dengan duduk diam. Ambil jeda setiap satu jam dan bergeraklah. 

Sumber : health.kompas.com