Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Wanita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Oktober 2014

Payudara Diangkat, Mau Diisi Implan atau Lemak?

Payudara Diangkat, Mau Diisi Implan atau Lemak?
Usai menjalani operasi mastektomi atau pengangkatan jaringan payudara, banyak perempuan memilih untuk memperbaiki bentuk dan tampilan payudaranya dengan menjalani bedah kosmetik atau operasi rekonstruksi. Hal yang sama mungkin dilakukan oleh aktris Hollywood, Angelina Jolie, yang pada Februari lalu menjalani mastektomi karena alasan berisiko tinggi mengalami kanker payudara.  

Sejauh ini dalam perkembangan teknologi di dunia kedokteran, tersedia dua pilihan utama yang dapat ditempuh oleh kaum hawa dalam memperbaiki payudaranya supaya terlihat lebih baik dan alami pascaoperasi pengangkatan jaringan. Dua pilihan tersebut adalah menanam implan payudara (biasanya dari bahan silikon atau saline) atau pun menanamkan jaringan dari tubuh pasien sendiri (berupa lemak atau daging yang diambil dari perut atau bagian tubuh lainnya).

Berikut adalah beberapa perbandingan antara bedah kosmetik payudara menggunakan implan atau jaringan tubuh pasien.  Perbandingan ini setidaknya dapat dijadikan gambaran bagi para wanita sebelum memutuskan  untuk memilih bedah kosmetik payudara :

IMPLAN : 
  • Material dari gel silikon atau saline (cairan air garam)
  • Prosedur dan waktu operasi biasanya dilakukan secara bertahap (dua kali). Dalam jeda  diantara dua operasi terpisah itu dibutuhkan pemantauan dokter untuk melebarkan rongga
  • Operasi bisa memakan waktu rata 1,5 hingga 3 jam   
  • Untuk waktu pemulihan, pasien butuh semalam saja menginap di rumah sakit dan butuh 3 ampai 4 minggu untuk pemulihan di rumah
  • Dari bentuk dan tekstur, tampak kurang alami. Tetapi akan tetap kenyal dalam waktu yang lama.
  • Sentivitas dan sensasinya minim
  • Risiko atau ancaman kerusakan relatih lebih besar karena implan bisa bocor atau perlu diganti seiring waktu berjalan
JARINGAN :
  • Material berasal dari jaringan tubuh pasien sendiri seperti otot atau lemak yang biasanya berasal dari area perut. Jaringan juga bisa berasal dari paha, panggul dan pantat.
  • Hanya butuh sekali operasi dengan durasi yang cukup lama antara 4 sampai 8 jam tergantung dari prosedur dan tipe operasi.
  • Waktu pemulihan pascaoperasi bisa sampai 5 hari di rumah sakit dan 6 butuh pemulihan sampai 8 pekan di rumah.      
  • Dari bentuk dan tekstur lebih lembut, lebih alami dan akan mengalami penuaan seperti halnya payudara asli.
  • Seperti halnya implan, jaringan yang ditanam juga minim akan sensitivitas.
  • Risiko dan kelemahan dari  penanaman jaringan tubuh ini adalah waktu pemulihan yang lebih lama dibandingkan implan. Selain itu, ada potensi  kehilangan sensasi sebagian atau komplikasi pasca operasi di beberapa jaringan tubuh yang diambil untuk pindah ke daerah payudara.
Sumber : health.kompas.com

Implan Payudara Bikin Seks Lebih Menyenangkan

Implan Payudara Bikin Seks Lebih Menyenangkan
Operasi implan payudara tidak hanya membuat wanita lebih percaya diri dengan ukuran payudaranya yang menjadi lebih besar, tetapi juga dapat meningkatkan kepuasan mereka di tempat tidur. 

Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil survei online yang digagas Realself.com, di mana melibatkan sejumlah wanita dan hasil survei menunjukkan bahwa hampir 61 persen wanita mengaku bahwa mereka lebih banyak melakukan hubungan seks dengan pasangan pasca menjalani operasi pembesaran payudara.

Dan, bahkan secara signifikan, 70 persen di antara mereka mengakui bahwa kepuasan kehidupan seks mereka telah sangat membaik sejak operasi pembesaran payudara dilakukan.

Real Self adalah sebuah komunitas untuk berbagi dan belajar tentang operasi kosmetik. Komunitas ini melakukan jajak pendapat selama dua minggu dan meminta pasien yang menjalani operasi pembesaran payudara untuk menilai pengalaman seks mereka sejak operasi dilakukan.

Temuan menunjukkan bahwa mereka yang menjalani pembesaran payudara mampu mencapai orgasme lebih mudah dan secara keseluruhan lebih mudah terangsang.

"Hasil jajak pendapat tidak mengejutkan. Saya melihat ada perubahan dalam apa yang pasien kenakan dan bagaimana mereka membawa diri mereka di tempat kerja setelah memiliki pembesaran payudara," ujar Dr Andrew P Trussler MD, ahli bedah plastik di daerah Dallas, dan asisten bedah plastik di University of Texas.

"Dalam pengamatan pribadi saya, wanita pasti merasa lebih percaya diri setelah operasi payudara, dan Anda dapat dengan mudah melihat bagaimana kepercayaan diri itu menghasilkan perbaikan pada area lain dari kehidupan mereka," katanya.

Seorang sumber (wanita yang menjalani operasi implan payudara) membenarkan temuan survei tersebut dan mengatakan bahwa implan payudara akan membawa seseorang untuk menikmati pengalaman seksual yang lebih bebas.

"Ini bukan hanya tentang kemampuan untuk mengesankan seorang pria. Ini lebih tentang rasa percaya diri Anda yang memungkinkan Anda untuk menikmati pengalaman seksual lebih bebas dan tanpa hambatan," kata sumber itu.

Pada skala 1-10, 28 persen perempuan yang mengambil bagian dalam survei ini mengakui bahwa kehidupan seks mereka meningkat empat poin. Bahkan 7,5 dari 10 wanita mengatakan prosedur ini "layak".

"Saya tidak percaya payudara hanya untuk kesenangan pria. Jika seorang wanita memeluk tubuhnya sendiri dan merasa diberdayakan oleh itu, maka dia bisa lebih menikmati dirinya sendiri," kata sumber itu.

Sumber : health.kompas.com

Makin Besar Implan, Makin Besar Masalah Payudara

Makin Besar Implan, Makin Besar Masalah Payudara
Kasus implan payudara bocor di Inggris meningkat lebih dari lima kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Rupanya makin banyak wanita yang ingin punya payudara kelewat besar meniru model Katie Price yang dikenal membesarkan payudaranya.

Dilaporkan lebih dari 1.500 kasus implan payudara pecah sepanjang 2012/2013. Sementara di tahun 2009/2010 kasus itu hanya meliputi 293. Mantan presiden British Association for Aesthetic Plastic Surgeons mengatakan,"Semakin banyak wanita menginginkan payudara yang lebih besar lagi. Padahal semakin besar, semakin banyak masalah. Implan besar amat terpengaruh oleh gravitasi. Seperti halnya sekantung ikan emas berdesir ketika diangkat, implan besar juga dapat berdesir."

Belakangan ini beredar implan murahan yang tak sesuai standar sehingga kemungkinan rusak pun besar. Beberapa tahun lalu dilaporkan perusahaan Perancis Poly Implant Prothese (PIP) sempat memproduksi implan menggunakan silikon untuk keperluan industri pembuat kasur.

Sekitar 50 ribu wanita di Inggris dan 400 ribu di seluruh dunia terkena skandal ini. Skandal terungkap setelah dokter menemukan sejumlah besar implan bocor. Pendiri PIP Jean-Claude Mas dipenjara empat tahun karena kesalahan itu.

Dari laporan 2.427 masalah implan payudara pada 2012 dan 2013, hampir separuhnya berkaitan dengan kebocoran.

Department of Health Inggris mengatakan sekitar 30 ribu operasi implan payudara dilakukan setiap tahun. Sebagian besar wanita yang menjalaninya tak mendapatkan masalah.

Katie Price, model dan selebriti asal Inggris pertama kali menjalani implan payudara di usia 18. Saat itu ia mengubah ukuran dari 32B ke 32D. Sejak itu ia sudah menjalani enam operasi.

Operasi keempatnya di Los Angeles membesarkan ukuran menjadi 32GG. Setelah bertemu suami pertamanya yang bernama Peter ANdre ia menjalani operasi pengurangan implan. Ia berharap pengurangan ukuran dada ke 32C tetapi hanya bisa ke ukuran 32F. Ia tak terlalu senang dengan hasilnya. Payudaranya terlihat terlalu berjauhan. Kemudian ia menjalani operasi kembali. Total ia sudah menghabiskan lebih dari 100 ribu poundsterling (sekitar dua milyar rupiah) untuk operasi plastik.

Sumber : health.kompas.com

Jumat, 17 Oktober 2014

Payudara Besar Lebih Beresiko Kanker?

Payudara Besar Lebih Beresiko Kanker?
Kanker payudara merupakan penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian bagi para wanita. Hingga saat ini belum diketahui pasti penyebab kanker payudara sehingga banyak mitos yang beredar mengenai kanker payudara sehingga menimbulkan persepsi yang salah.

Kepala Instalasi Deteksi Dini dan Onkologi Sosial RS Kanker Dharmais, Walta Gautama beberapa waktu lalu mengatakan, mitos mengenai kanker payudara ini dapat membuat seseorang takut memeriksakan payudaranya dan tidak mengetahui bagaimana melakukan deteksi dini.

Mitos: Benjolan satu-satunya tanda kanker payudara
Benjolan yang Anda temukan pada payudara bukan lah satu-satunya tanda Anda tekana kanker payudara. 

"Tetapi jika ada benjolan bukan berarti pasti kanker. Sebanyak 9 dari 10 benjolan pada payudara bukan kanker," kata Walta.

Tanda yang patut dicurigai sebagai kanker payudara adalah iritasi kulit, terasa nyeri pada puting susu atau retraksi kemerahan atau mengelupas dari puting atau kulit payudara, dan adanya cairan yang keluar dari puting selain ASI, seperti nanah.

Mitos: Mammografi bisa menyebabkan kanker payudara menyebar
Ada yang mengatakan pemeriksaan mammografi bisa membuat kanker menyebar, padahal hal ini juga tidak benar. Mitos ini membuat banyak wanita enggan melakukan mammografi pada payudaranya. Padahal, pemeriksaan mammografi dilakukan untuk melihat perubahan abnormal pada payudara menggunakan sinar X dosis rendah.

"Kompresi payudara saat menjalankan pemeriksaan mammografi tidak menyebabkan kanker menyebar," kata Walta.

Walta menjelaskan, rekomendasi standar adalah pemeriksaan mammografi yang rutin setiap tahun bagi perempuan yang berusia di atas 40 tahun. Kelemahan mammografi terkadang tidak dapat menemukan kanker. Umumnya pemeriksaan ini dilakukan pada wanita yang belum memiliki keluhan payudara atau gejala.

Mitos: Ukuran payudara besar lebih berisiko kanker payudara
Mitos yang beredar bahwa mereka yang memiliki ukuran payudara besar lebih berisiko kanker payudara. Sebaliknya, ukuran payudara yang kecil kecil kemungkinannya terkena kanker payudara. Namun, tidak ada penelitian yang dapat membuktikan hal ini. Payudara kecil maupun besar sama-sama berisiko terkena penyakit kanker.

Mitos: Pemakaian bra picu kanker payudara
Menurut Walta, mitos ini muncul karena pemakaian bra dianggap menghambat aliran darah sehingga memicu kanker. Apalagi jika menggunakan bra berkawat. Sejumlah penelitian sejauh ini pun tidak menemukan kaitan antara pemakaian bra dan kanker payudara. Termasuk jika menggunakan bra saat tidur.

Melakukan pemeriksaan payudara sendiri atau yang dikenal dengan SADARI secara rutin merupakan cara yang tepat untuk deteksi dini. Semakin cepat kanker ditemukan, maka tingkat kesembuhan semakin tinggi.

Sumber : health.kompas.com

Selasa, 14 Oktober 2014

Begini Cara Sehat Bebas dari Kanker Serviks

Begini Cara Sehat Bebas dari Kanker Serviks
Kanker serviks merupakan jenis kanker paling mematikan kedua pada wanita, setelah kanker payudara. Di Indonesia, angka kejadiannya diperkirakan mencapai 15.000 kasus per tahunnya, dengan 53 juta wanita berisiko mengidapnya.

Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Nurdadi Saleh mengatakan, kanker serviks menjadi jenis kanker yang mematikan karena biasanya ditemukan pada stadium lanjut. Alasannya, gejala kanker serviks di awal terjadinya memang tidak khas, atau bahkan tidak menimbulkan gejala sama sekali.

"Jika penyakit reproduksi lain seperti kista rahim, gejalanya jelas, perut buncit seperti hamil, ada lagi yang disertai nyeri, tapi kalau kanker serviks gejalanya sangat tidak khas," terangnya saat ditemui dalam sebuah diskusi kesehatan beberapa waktu lalu di Jakarta.

Kendati demikian, Nurdadi menekankan bahwa kanker serviks bisa dicegah dengan beberapa cara sebagai berikut.

1. Seks aman
Virus penyebab kanker serviks yang dikenal dengan nama Human Papilloma Virus (HPV) paling banyak ditularkan melalui hubungan seksual, sehingga menjaga keamanan saat berhubungan seks. Nurdadi mengatakan, setia berhubungan dengan satu pasangan saja masih berisiko untuk tertular virus, apalagi jika tidak setia dengan pasangan.

Nurdadi menambahkan, sunat bagi laki-laki juga dapat mengurangi risiko penularan HPV secara signifikan dibandingkan dengan laki-laki yang tidak disunat. Selain itu, aktivitas seksual lain yang dilakukan sendiri, misalnya memasukkan jari ke kemaluan juga berpotensi untuk menularkan virus karena HPV bisa pula hidup di kulit jari tangan.

2. Vaksinasi
Vaksinasi HPV merupakan cara terbaik untuk pencegahan kanker serviks. Saat ini tersedia vaksin HPV untuk tipe 16 dan 18, tipe yang paling banyak menyebabkan kanker serviks. Vaksin memberikan perlindungan terbaik setelah tiga kali suntikan yang diberikan dalam jangka enam bulan.
"Sayangnya saat ini belum tersedia vaksin HPV untuk tipe lainnya, padahal ada pula tipe lain HPV yang bisa menyebabkan kanker serviks, meskipun tidak sebanyak tipe 16 dan 18," kata dokter kebidanan subspesialis onkologi Andi Darma Putra.

3. Deteksi dini rutin
Deteksi dini merupakan cara agar kanker serviks tidak ditemukan pada stadium yang sudah lanjut sehingga kemungkinan untuk disembuhkannya lebih besar. Deteksi dini dilakukan dengan metode pap smear, inspeksi visual dengan asam asetat, dan teknologi self-sampling.

4. Tidak merokok
Merokok akan menurunkan kemampuan sistem imun sehingga meningkatkan risiko kanker. Diketahui 95 persen HPV yang masuk ke dalam tubuh akan hilang dalam waktu dua sampai tiga tahun, namun lima persennya akan menetap. Dan jika daya tahan tubuh lemah, HPV yang menetap itu akan menjadi kanker. Meskipun, kata Andi, faktornya tidak hanya itu.

5. Diet sehat
Terlalu banyak mengonsumsi makanan berpengawet, berpenyedap, dan berwarna merupakan faktor yang meningkatkan risiko kanker apapun, termasuk kanker serviks. Untuk itu, makanan yang mengandung zat-zat tambahan itu perlu dihindari.

Sumber : health.kompas.com

Tak Timbulkan Gejala, Kanker Serviks Mengintai Wanita

Tak Timbulkan Gejala, Kanker Serviks Mengintai Wanita
Kanker serviks atau kanker mulut rahim merupakan jenis kanker terbanyak kedua, setelah kanker payudara, yang diderita wanita Indonesia. Kanker yang terjadi pada mulut rahim atau serviks ini berkembang selama puluhan tahun dan selama itu tak menimbulkan gejala.

Di dunia, diperkirakan setiap dua menit seorang wanita meninggal karena kanker serviks, sedangkan di Indonesia setiap satu jam wanita meninggal akibat penyakit ini. Meski demikian, pengetahuan masyarakat akan kanker ini masih rendah sehingga kanker ini ditemukan pada stadium lanjut.

Menurut dr.Andi Darma Putra, Sp.OG (K), subspesialis onkologi, kanker serviks disebabkan oleh human papilomma virus (HPV) tipe 16 dan 18. "Kedua tipe virus ini menyebabkan lebih dari 75 persen kasus kanker serviks," katanya dalam acara seminar Waspada HPV, Jangan Tunda Vaksinasi di Jakarta (14/10/14).

Perjalanan penyakit ini sejak mulai terinfeksi hingga menjadi kanker bisa berlangsung antara 15-20 tahun. Dilihat dari usia penderita, kanker serviks rata-rata dialami wanita pada rentang usia 35-55 tahun. Dengan perhitungan masa inkubasi tersebut, berarti penderita mulai terjangkit virus HPV sejak usia muda, yakni sekitar usia 20 tahun atau saat mulai melakukan aktivitas seksual.

Penularan utama HPV, menurut ADP, panggilan Andi, disebabkan melalui hubungan seksual dan kontak kulit dengan kulit. "85 persen terjadi melalui rute seksual dan sisanya aktivitas nonseksual, seperti sentuhan kulit kelamin atau menyentuh kelamin dengan jari. Ini karena virus ini hidup di epitel kulit, jadi tidak harus ditularkan lewat penetrasi seksual," kata dokter yang juga staf pengajar Obstetri dan Ginekologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Meski demikian, 95 persen penularan HPV bisa sembuh dengan sendirinya dilawan oleh sistem kekebalan tubuh. "Yang bahaya itu yang 5 persen, virusnya akan menetap bahkan berkembang menjadi kanker," paparnya.

Pada tahap awal, penyakit ini tidak akan menimbulkan keluhan atau gejala. Biasanya gejala timbul setelah penyakitnya memasuki stadium lanjut.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain nyeri panggul dan kandung kemih, perdarahan setelah senggama, perdarahan di luar masa haid, serta keputihan yang tidak normal dengan ciri diantaranya kental, berwarna kuning atau kecokelatan, serta berbau busuk dan gatal.

Tentu saja, gejala tersebut tak berarti vonis kanker. Bisa jadi disebabkan oleh hal lain. Tapi, Anda tetap harus memeriksakannya ke dokter untuk mengetahui penyebabnya.

Karena kanker ini merupakan satu-satunya kanker yang sudah diketahui penyebabnya, maka kita sebenarnya bisa mencegahnya, yakni dengan melakukan vaksinasi. "Kanker serviks berkorelasi hampir 100 persen dengan HPV tipe 16 dan 18. Vaksinnya pun sudah ada," kata ADP.

Vaksinasi idealnya dilakukan sejak usia remaja. Di beberapa negara maju, vaksinasi HPV diberikan pada remaja berusia 10 tahun. "Semakin muda usia mendapatkan vaksin, tingkat perlindungannya mencapai 98 persen," kata dr.Suria Nataatmadja, Medical Affairs Director Merk Sharp & Dohme Indonesia.

Cara lain untuk menurunkan risiko penularan HPV adalah menghindari berganti-ganti pasangan, menggunakan kondom, serta menjaga kesehatan agar sistem kekebalan tubuh selalu prima. Meski demikian, WHO merekomendasikan vaksinasi sebagai pencegahan primer terhadap kanker ini.

Sumber : health.kompas.com

Senin, 06 Oktober 2014

Gangguan Bipolar pada Wanita Lebih Sulit Didiagnosis

Gangguan Bipolar pada Wanita Lebih Sulit Didiagnosis
Gangguan bipolar merupakan salah satu jenis gangguan mental yang cukup banyak dialami. Gangguan bipolar umumnya didiagnosis pada usia yang relatif muda yaitu di bawah usia 15 tahun. Hanya saja, gangguan ini akan lebih sulit diprediksi pada wanita.

Dokter spesialis kejiwaan dari Departemen Psikiatri FKUI/RSCM Nurmiati Amir memaparkan, diagnosis pada wanita seringkali lebih lambat daripada pria. Ini karena biasanya episode yang muncul di awal adalah depresi. Padahal depresi juga dapat menjadi gejala dari gangguan jiwa lainnya.

"Awalnya wanita dengan dipolar menunjukkan episode depresi, depresi, dan depresi. Sehingga belum bisa diprediksi itu bipolar. Gangguan bipolar biasanya baru bisa terdiagnosis jika sudah ada episode manik," ujarnya Rabu (14/8/2014) di Jakarta.

Diketahui, manifestasi dari gangguan bipolar adalah perubahan nuansa hati (mood) yang dramatis, dari mood yang sangat bahagia atau dikenal dengan manik (mania) menjadi mood yang sangat sedih atau depresi. Perubahan episode ini dapat berlangsung dengan cepat meski tidak ada kondisi tertentu yang jadi pemicunya.

Karena pengaruh hormon, episode yang ditemui pada wanita di awal terjadinya gejala adalah episode depresi. Karena terus menerus depresi, seringkali dokter mendiagnosisnya sebagai depresi mayor berulang. Lain halnya pada pria. Biasanya  episode yang terjadi di awal adalah episode manik sehingga relatif mudah didiagnosis.

Manik ditandai dengan semangat menggebu-gebu, berbicara cepat dan memiliki ide lebih banyak daripada biasanya. Penderita pun menjadi jauh lebih percaya diri, tidak kenal lelah, lebih boros, dan hasrat seksual tidak terbendung.

Suasana hati yang demikian akan berbalik 180 derajat ketika sedang pada episode depresi. Penderita akan merasa sedih luar biasa, murung, tidak punya tenaga, bahkan untuk sekedar mengangkat sendok makan. Kemampuan kognitif menurun, merasa bersalah, dan tak punya semangat hidup.  Pada episode yang berbahaya ini banyak orang dengan gangguan dipolar yang mencoba bunuh diri.

Satu episode umumnya bertahan minimal satu minggu. Bila episode berakhir, orang dengan gangguan bipolar belum tentu langsung mengalami episode selanjutnya. Artinya, saat tidak mengalami episode, orang dengan gangguan dipolar tidak menunjukkan gejala apapun, normal seperti halnya orang yang bermental sehat.

Jika tidak mendapat penanganan, setiap episode akan berlangsung dengan cepat. Sehingga dalam satu tahun, akan terjadi hingga empat siklus. Semakin dini gangguan bipolar terdeteksi, maka akan semakin besar keberhasilan terapinya.

Sumber : Merdeka.com

Selasa, 23 September 2014

Dampak Poligami pada Kesehatan Istri yang Dimadu

Dampak Poligami pada Kesehatan Istri yang Dimadu
Peristiwa terakhir adanya pejabat yang diduga melakukan poligami saat menjadi pejabat membuat saya tergelitik untuk mencoba melakukan review dampak poligami bagi kesehatan.

Saya sendiri belum pernah melakukan survei seputar permasalahan ini dan belum mendapatkan penelitian dari Indonesia yang telah dipublikasi secara internasional. Tetapi dalam praktek sehari-hari sebagai seorang dokter ternyata masalah keluarga bisa menjadi pencetus seseorang mengalami gangguan kesehatan.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang masalah ini yang bisa saya kerjakan adalah mencari bukti klinis tentang masalah poligami ini dengan kesehatan. Untuk itu saya melakukan penelusuran melalui ‘PUBMED” salah satu situs ternama yang digunakan secara luas untuk mengetahui penelitian yang telah dikerjakan dan dipublikasi pada berbagai jurnal ternama.

Untuk penelusuran mengenai poligami ini saya menggunakan keyword “Polygamous married”. Surprised! Ternyata ada beberapa penelitian yang melihat dampak poligami pada berbagai permasalahan kesehatan khususnya bagi istri pertama. Saya membatasi diri untuk membuka jurnal terakhir saja dan bentuk artikelnya sebuah artikel penelitian.

Menarik apa yang saya dapati dari penelusuran tentang penelitian seputar praktek poligami tersebut. Ternyata sudah ada penelitian tentang hal ini pada orang-orang yang mengalami poligami di negara-negara Afrika, Asia, terutama negara-negara Arab dan bahkan yang menarik lagi bahwa di era globalisasi ini praktek poligami juga terjadi di Amerika dan Eropa.

Kenapa seseorang pria melakukan poligami? Satu penelitian dari Nigeria melaporkan 5 alasan kenapa seseorang melakukan praktek poligami antara lain ingin memiliki anak yang lebih banyak, meningkatkan prestise dimata teman atau kelompoknya, meningkatkan status dalam masyarakatnya, menambah anggota keluarga untuk melakukan pekerjaan, misal dalam bidang pertanian dan terakhir untuk memuaskan dorongan seksualnya.

Bagaimana dengan di Indonesia? Berbagai alasan yang muncul jika kita tanya kepada teman atau kolega yang melakukan poligami, mereka menjawab untuk menyalurkan keinginan seksualnya dari pada berhubungan dengan wanita tunasusila dan tidak halal, lebih baik menikah lagi dan halal yang penting bisa berlaku “adil”. Saya membatasi diri tidak akan membahas masalah “adil” ini lebih lanjut karena sudah masuk ranah agama.

Gangguan jiwa

Hal yang sering kita dengar dalam perbincangan poligami seputar kita adalah pernyataan “wanita mana yang mau dimadu?” Dan pada akhirnya memang ada juga wanita yang mau dimadu ketika suaminya dengan berbagai alasan minta izin untuk menikah lagi.

Berbagai penelitian yang dilakukan antara lain yang saya baca melaporkan poligami dari Syria, Palestina, Turki, Jordan, Kuwait mendapatkan bahwa istri pertama akan mempunyai masalah psikosial, keluarga dan masalah ekonomi yang lebih besar dibandingan pada wanita dalam perkawinan monogami.

Penelitian yang dilakukan Al-Krenawi pada wanita Syria mendapatkan bahwa wanita yang mengalami poligami mengalami penurunan kepuasan hidup dan kepuasan perkawinan. Para wanita yang mengalami poligami akan mengalami masalah gangguan jiwa yang berdampak juga buat kesehatannya.

Mereka lebih mudah jatuh dalam depresi, gangguan psikosomatik, mudah mengalami kecemasan dan juga bisa mengalami paranoid. Tetapi secara umum fungsi keluarga wanita yang mengalami poligami ternyata tidak ada perbedaan dengan wanita monogami. Penelitian ini dilakukan di Syria dan di publikasi pada World Journal Psychiatry tahun 2013.

Penelitian lain yang dilakukan di Jordania juga mendapatkan hal yang sama bahwa wanita yang mengalami poligami akan merasa rendah diri, menjadi tidak berharga, mengalami gangguan psikosomatik dan gangguan somatisasi. Jika ditanyakan apakah mereka yang mengalami poligami setuju mengalami poligami mereka umumnya setuju berbeda dengan wanita yang monogami mereka tidak setuju untuk dipoligami.

Penelitian di Turki yang juga membandingkan kehidupan wanita yang dipoligami dan monogami mendapatkan bahwa wanita yang dipoligami ternyata lebih mudah mengalami gangguan kejiwaan, lebih mudah mengalami stress dibandingan wanita yang dipoligami. Berbagai penelurusan artikel ilmiah ini mendapatkan bahwa memang akhirnya para istri yang dimadu akan lebih mudah mengalami gangguan kesehatan dibandingkan dengan wanita yang tidak dimadu.

Kadang kala memang wanita memilih untuk dicerai dari pada dimadu tetapi pertanyaannya apakah wanita yang tidak bersuami lebih sehat dibandingan dengan wanita yang perkawinannya tidak memuaskan misal karena dimadu.

Satu survei yang dilakukan oleh Chung dan Kim dari Universitas Yonsei Korea Selatan dan baru saja dipublikasi beberapa hari lalu di Jurnal PlosOne melihat hubungan antara perkawinan dan kepuasan perkawinan dengan kesehatan. Ternyata pasangan yang puas dalam perkawinannya akan lebih sehat dari pada seseorang yang belum menikah.

Tetapi seseorang yang menikah dan tidak puas dengan perkawinannya mempunyai permasalahan kesehatan yang sama dengan orang yang tidak menikah. Hal inilah yang menghasilkan kesimpulkan bahwa kepuasan perkawinan merupakan hal yang penting untuk kesehatan dibandingkan perkawinan itu sendiri. Survei besar ini melibatkan 8.538 orang dari China, Jepang, Taiwan dan Korea dan dipubliksi di jurnal PlosOne bulan Agustus 2014.

Kembali lagi akhirnya menjadi buah simalakama buat seseorang yang dimadu: tetap meneruskan perkawinan dan dimadu atau minta bercerai dari pada dimadu. Keputusan yang diambil sama-sama akan membawa dampak buat kesehatan mereka.

Akhirnya apa yang saya sampaikan ini merupakan hasil penelitian di luar negeri, budaya kita berbeda dengan budaya Asia timur maupun masyarakat Arab. Tentu perlu penelitian dengan responden orang Indonesia untuk menjawab apakah para istri yang dimadu di Indonesia juga mempunyai permasalahan kesehatan yang sama dengan para wanita yang dimadu dari negara lain yang telah saya ungkapkan diatas.

Salam sehat,
Dr.Ari F Syam-Praktisi Kesehatan
@dokterari

Sumber: health.kompas.com


Selasa, 16 September 2014

Hindari Dehidrasi, Ibu Hamil Perlu Minum Lebih Banyak

Hindari Dehidrasi, Ibu Hamil Perlu Minum Lebih Banyak
Kehamilan merupakan masa krusial, sehingga apapun yang dilakukan di saat itu bukan hanya berpengaruh pada kesehatan ibu, melainkan juga kesehatan janin. Termasuk kekurangan konsumsi air atau yang dikenal dengan istilah dehidrasi di saat hamil, efeknya bisa mempengaruhi kesehatan janin.

"Ibu hamil tidak boleh sampai kekurangan cairan karena efeknya bukan hanya pada ibunya, tapi juga janinnya," tegas ahli gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr Saptawati Bardosono, Sp.GK saat ditemui di acara Inagurasi dan Konferensi Pers Indonesian Hydration Working Group, Kamis (10/10/2013) di Jakarta.

Dehidrasi pada umumnya akan berpengaruh terhadap menurunnya konsentrasi, lemas, cedera, bahkan dalam kadar yang berat dapat menyebabkan pingsan dan kematian. Sementara itu, menurut Saptawati, pada kehamilan dehidrasi bisa berdampak pada berkurangnya air ketuban atau cairan amnion.

Meskipun belum dibuktikan secara ilmiah, kata dia, namun secara teori jika ibu dehidrasi maka cairan tubuhnya akan berkurang termasuk cairan amnion. Padahal, cairan amnion berguna untuk melindungi janin dan jika jumlahnya kurang akan berisiko bagi tumbuh kembang janin.

Selain itu, kebutuhan air ibu hamil ternyata juga lebih banyak daripada orang dewasa pada umumnya. Menurut pakar gizi dari FKUI dr Inge Permadhi, SpGK, saat hamil, wanita perlu mengonsumsi air 400 mL lebih banyak dari yang disarankan untuk orang dewasa sehat.

"Kebutuhan konsumsi air pada orang dewasa sehat yaitu antara 2.000-2.500 mL per hari. Pada ibu hamil berarti bisa mencapai 2.400-2.900 mL," ujarnya.

Begitu pula, Inge menekankan ibu menyusui untuk menambah konsumsi airnya. Terlebih saat menyusui lebih banyak lagi cairan yang keluar melalui air susu. Karena itu, menurut Inge, konsumsi air perlu ditambah 800 mL, sehingga jumlahnya mencapai 2800-3300 mL.

Air termasuk dalam zat gizi makro yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah paling banyak dibandingkan zat gizi lainnya. Air memiliki fungsi yang banyak di dalam tubuh, antara lain untuk mengatur suhu tubuh, membasahi jaringan mukosa, pelumas dan pelindung organ-organ tubuh, mencegah konstipasi, melarutkan zat gizi, dan banyak fungsi lainnya.

Sumber: health.kompas.com

Mengapa Wanita Butuh Minum Air Lebih Banyak dari Pria

Mengapa Wanita Butuh Minum Air Lebih Banyak dari Pria
Ketika kita melakukan aktivitas fisik yang berat, tentu tubuh akan berkeringat, apa pun jenis kelamin kita. Berkeringat merupakan cara tubuh menjaga kestabilan suhunya.

Namun setiap tetes keringat mengandung elektrolit dan cairan yang penting untuk menjaga kinerja tubuh tetap optimal. Bila terlalu banyak kehilangan komponen itu, Anda dapat mengalami dehidrasi. Gejala yang terasa adalah kelelahan, pusing, dan lemas, selain tentunya rasa haus.

Minum cukup air adalah cara untuk mengembalikan cairan elektrolit yang hilang tersebut. Tetapi, tidak semua orang punya kebutuhan hidrasi yang sama. Wanita ternyata butuh cairan lebih banyak dibanidng pria.

Tingkat estrogen dan progesteron wanita yang berubah tiap bulan  dapat memengaruhi kemampuan hidrasi mereka. Peneliti menambahkan, wanita yang minum sesuai batas anjuran tidak dapat mencapai performa terbaiknya. Alasannya, rekomendasi batas konsumsi tersebut dikembangkan berdasarkan penelitian pada pria.

Menurut ahli nutrisi dan fisiologi latihan, Stacy Sims Ph.D., Wanita punya risiko mengalami gangguan gastrointestinal ketika olahraga lima kali lebih besar dibanding pria.

"Contoh gangguannya seperti kembung, masuk angin, atau diare." Wanita juga lebih cenderung mengalami kelelahan dan serangan panas," katanya.

Gangguan tersebut terkait dengan volume darah. Untuk menjaga kebugaran tubuh, volume darah harus tetap dijaga tinggi.

Pada masa hormon estrogen dan progesteron tinggi seperti saat masa PMS, seorang wanita kehilangan sekitar 8 persen plasma darah. Progesteron yang tinggi juga dapat menaikkan suhu tubuh hingga sekitar 17 Celcius. Hal ini mengurangi toleransi tubuhnya terhadap panas dan membuat wanita itu lebih cepat lelah.

Selain itu, kadar sodium juga punya peran penting. Alasannya, sodium membantu transportasi air ke darah. Kadar progesteron yang meningkat melawan fungsi hormon seperti aldosteron yang memproduksi sodium. Akibatnya, sodium yang dibuang dari tubuh semakin banyak.  Konsumsi pil KB juga meningkatkan jumlah estrogen dan progesteron hingga 6-8 kali lipat!

Menurut Sims, fluktuasi hormon tersebut dapat diantisipasi dengan hidrasi dan makanan yang tepat. Dibanding pria, wanita lebih membutuhkan banyak sodium, potasium (bersama sodium membantu mengalirkan air ke darah), dan gula lainnya.

Gula seperti glukosa dan sukrosa paling mudah dicerna tubuh, sedangkan fruktosa cenderung menyebabkan kembung karena wanita lebih sulit memprosesnya.

Mulailah kebiasaan minum sebelum olahraga. "Cobalah menghidrasi tubuh sebelum latihan. Untuk latihan yang berat, prehidrasi sangat berguna untuk menjaga kestabilan kadar sodium dalam tubuh," kata Sims. Tetaplah konsumsi cairan selama latihan. American College of Sports Medicine menyarankan untuk minum sebanyak 80-230 cc air setiap 15-20 menit untuk olahraga yang lebih lama dari 1 jam.

Sumber: health.kompas.com