Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Jantung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Jantung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 November 2014

Viagra Bakal Dikembangkan Jadi Obat Jantung?

Viagra Bakal Dikembangkan Jadi Obat Jantung?
Obat antiimpotensi Viagra pada awalnya dimaksudkan untuk menjadi obat gangguan jantung dan pembuluh darah. Meski kini lebih dikenal sebagai "obat kuat", para ahli merasa obat ini sudah seharusnya kembali ke tujuan awalnya.

Viagra mulai diperkenalkan di pasaran tahun 1998 setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyetujui penggunaan obat ini untuk pria yang impotensi. Satu dekade kemudian, ia menjadi obat yang paling sukses di pasaran dengan produksi mencapai 1,8 miliar pil dan digunakan lebih dari 35 juta orang.

Obat yang memiliki nama generik Sildenafil ini sejatinya didesain untuk mengatasi tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular dengan cara melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah.

"Efektivitasnya sebagai obat anti-angina (nyeri dada) tergolong sedang, tapi pasien yang minum obat ini mengalami efek samping tak terduga yakni peningkatan kualitas ereksi," kata Andrea M.Isidori, salah satu peneliti.

Setelah mendengar banyak laporan dari pasien yang mengalami hal serupa, para ahli di Pfizer, produsen Viagra, langsung mengubah fokusnya dari obat jantung menjadi obat antiimpotensi.

Dikenal luas sebagai "pil cinta", pada awal sejarahnya obat ini justru berdampak negatif pada pasien penyakit jantung, beberapa bahkan mengalami kematian mendadak. Setelah itu, para dokter berhenti meresepkan obat ini pada pria yang menderita penyakit jantung.

Belakangan hasil riset mengungkapkan bahwa masalah itu timbul jika Viagra dikombinasikan dengan obat lain yang mengandung zat nitro (dipakai untuk mengatur saraf, imun, dan sistem kardiovaskular).

Kombinasi obat tersebut akan menyebabkan penurunan tekanan darah mendadak ketika penggunanya sedang berhubungan seks, dan ini tentu saja berbahaya bagi seseorang yang sudah punya masalah jantung. "Jika Viagra diminum dengan tepat, masalah itu tak akan terjadi," kata Isidori.

Studi terbaru mungkin akan mengubah persepsi bahwa Viagra berbahaya bagi orang yang mengalami gangguan jantung. Bahkan, obat yang kerap dijuluki "pil biru" ini bisa meningkatkan fungsi jantung.

Phosphodiesterase-5 inhibitor (PDE5i) adalah kandungan utama dalam Viagra dan obat antiimpotensi lainnya. Inhibitor ini akan menahan enzim PDE5, yang mencegah relaksasi jaringan otot halus.

Hasil penelitian terbaru yang melibatkan 1.622 pria menunjukkan, PDE5i mencegah jantung membesar dan berubah bentuk pada pasien yang mengalami kondisi yang disebut hipertropi ventricular kiri. PDE5i juga meningkatkan performa jantung pada semua pasien dengan berbagai kondisi jantung, tanpa efek negatif pada tekanan darah.

Para peneliti menyimpulkan PDE51 aman untuk pria yang mengalami penipisan otot jantung dan tahap awal gagal jantung. "Kami menemukan bahwa kandungan utama dalam Viagra bisa dipakai sebagai terapi yang efektif pada pasien penyakit jantung," kata Isidori.

Meski begitu, masih dibutuhkan penelitian lagi untuk mengetahui apakah zat tersebut benar-benar aman. Jika nanti terbukti aman, maka kepopuleran Viagra sebagai "obat kuat" mungkin akan digantikan sebagai obat jantung.

Sumber : health.kompas.com

Sabtu, 04 Oktober 2014

Olahraga Malam Hari, Baguskah untuk Kesehatan?

Olahraga Malam Hari, Baguskah untuk Kesehatan?
Bekerja dari pagi hingga malam membuat seseorang tak memiliki waktu yang banyak untuk olahraga. Mereka pun menyempatkan olahraga pada malam hari. Namun, masih banyak yang bertanya-tanya apakah olahraga pada malam hari baik untuk kesehatan. 

Dokter spesialis olahraga, Andi Kurniawan mengatakan, olahraga sebenernya sangat baik dilakukan pada pagi hari di mana udara lebih segar dan terpapar sinar matahari. Akan tetapi, jika tidak sempat melakukannya pada pagi hari, olahraga pada sore hingga malam hari pun tidak masalah bagi kesehatan. 

"Mereka yang enggak sempat olahraga di pagi hari, baru sempatnya malam hari akan jauh lebih baik daripada yang tidak olahraga sama sekali. Sekarang, kan banyak yang olahraga, lari malam di Senayan, itu enggak ada masalah," ujar Andi di Jakarta, Jumat (3/10/2014). 

Andi mengatakan, olahraga malam hari tidak disarankan terlalu malam atau mengganggu waktu tidur. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas tidur Anda. Selesai berolahraga, Anda pun sebaiknya tidak langsung tidur. Berilah jeda sekitar 1 sampai 1,5 jam dari waktu olahraga dan tidur.

"Olahraga malam hari juga harus dengan pemanasan terlebih dahulu. Lalu ketika selesai lakukan pendinginan dan peregangan. Jangan langsung tidur," kata Andi. 

Andi menjelaskan, olahraga pada orang dewasa direkomendasikan paling sedikit 150 menit dalam lima hari atau 30 menit per hari. Jika tak banyak cukup waktu, olahraga boleh saja dilakukan secara bertahap dalam satu hari. Misalnya, 10 menit pagi hari dan sisanya pada siang, sore atau malam hari. 

Menurut dia, tidak ada batasan waktu berapa lama sebaiknya seseorang olahraga di malam hari. Pada prinsipnya, berolahragalah sesuai kemampuan dan kondisi tubuh. Jika tidak terbiasa berolahraga, mulailah dengan melakukan aktivitas fisik yang ringan. Yang terpenting, jangan biarkan diri Anda tidak bergerak aktif. Sempatkan lah melakukan aktivitas fisik atau olahraga setiap hari untuk hidup yang lebih sehat.

Sumber : Merdeka.com

Selasa, 30 September 2014

Agar Jantung Sehat, Kurangilah Daging Olahan

Agar Jantung Sehat, Kurangilah Daging OlahanKebiasaan mengasup daging merah yang diproses, seperti sosis, bacon, atau daging ham, bisa berakibat berbahaya pada pria. Menurut studi terbaru, konsumsi daging olahan meningkatkan risiko gagal jantung.

Dalam studi yang dimuat dalam jurnal Circulation:Heart Failure, para peneliti menganalisa studi cohort yang melibatkan 37.035 pria sehat berusia 45-79 tahun. Studi yang dilakukan oleh tim dari Karolinska Institutet di Stockholm ini mengikuti para responden dari tahun 1998 hingga 2010.

Studi cohort adalah jenis studi yang membandingkan dua kelompok dengan karateristik serupa.

Pada periode studi, 2.891 pria mengalami gagal jantung dan 266 orang meninggal akibat penyakit tersebut. Pria yang mengonsumsi daging yang diproses sekitar 75 gram atau lebih setiap hari, risikonya 28 persen menderita gagal jantung. Pria yang hobi mengasup daging olahan juga beresiko dua kali lipat meninggal akibat penyakit ini dibanding dengan yang makan lebih sedikit.

Lebih dari itu, untuk setiap peningkatan asupan 50 gram (setara dengan satu atau dua iris ham) setiap hari, risikonya naik lagi menjadi 8 persen dan risiko kematiannya meningkat hingga 38 persen.

Studi sebelumnya menyebutkan, sering makan daging olahan juga meningkatkan resiko kanker usus besar. Daging olahan dianggap perlu dibatasi karena mengandung banyak bahan pengawet nitrat.

Sumber: health.kompas.com

Selasa, 23 September 2014

Pernah Serangan Jantung, Jangan Berlebihan Olahraga

Pernah Serangan Jantung, Jangan Berlebihan Olahraga
Orang yang pernah mengalami serangan jantung disarankan untuk berolahraga rutin untuk memperbaiki kesehatan jantungnya. Namun sebuah studi mengungkapkan, ada batasan tertentu bagi mereka untuk mendapatkan hasil yang optimal.

"Berolahraga lebih banyak bukan berarti lebih baik bagi mereka," ujar peneliti studi Paul Williams, peneliti di Lawrence Berkeley National Laboratory, California, AS.

Williams dan timnya menganalisis sekitar 2.400 orang yang pernah mengalami serangan jantung untuk pola olahraga yang mereka lakukan. Studi jangka panjang itu mengikuti peserta yang melakukan olahraga berlari dan berjalan kurang lebih selama 10 tahun. Umumnya, peningkatan porsi olahraga mengurangi risiko meninggal karena penyakit jantung hingga 65 persen.

Namun berlari lebih dari 48,2 kilometer (km) atau berjalan lebih dari 74 km per minggunya justru akan memberikan dampak yang sebaliknya. Peneliti mengungkapkan, porsi olahraga tersebut justru dapat melipatgandakan risiko serangan jantung. Dalam periode studi ini, 526 peserta meninggal, hampir tiga perempatnya dikarenakan serangan atau penyakit jantung.

Karena studi ini terbatas untuk orang yang pernah mengalami serangan jantung, maka Williams belum dapat memastikan hasil temuan ini dapat diaplikasikan bagi seluruh orang dewasa sehat, khususnya yang hobi berolahraga berlebihan.

Sementara itu, olahraga berlebihan pada orang yang pernah mengalami serangan jantung cukup jarang terjadi. Dari seluruh peserta studi, hanya 6 persen yang mencapai ambang batas yang ditetapkan peneliti tersebut. Pada mayoritas peserta, meningkatkan porsi olahraga dalam batas moderat mengurangi risiko kematian yang terkait dengan penyakit jantung.

Carl Lavie, direktur medis rehabilitasi dan preventif jantung di John Ochsner Heart and Vascular Institute, mengatakan, studi ini menunjukkan, orang tidak perlu melakukan terlalu banyak olahraga untuk mendapat manfaat optimal, khususnya untuk memperbaiki kesehatan jantung.

Para pakar sepakat, rekomendasi 150 menit latihan intensitas moderat dan 75 menit latihan intensitas berat dalam seminggu sudah cukup bagi setiap orang secara umum.

Sumber: health.kompas.com

Pemasangan Cincin di Jantung, Tak Jamin Bebas Serangan Jantung

Pemasangan Cincin di Jantung, Tak Jamin Bebas Serangan Jantung
Selain perubahan pola makan dan diet, melakukan pemasangan cincin metal (stent) adalah cara yang lebih efektif untuk mengatasi pembuluh darah koroner yang menyempit atau tersumbat. Prosedur ini disebut juga dengan angioplasti koroner.

Penyempitan pembuluh darah selain dapat menyebabkan serangan jantung, juga bisa menimbulkan angina (nyeri dada). Stent yang dipasang bertujuan menjaga agar pembuluh darah tetap terbuka.

Banyak pasien yang melakukan prosedur pemasangan stent yakin bahwa tindakan ini akan mengurangi risiko mereka terkena serangan jantung di kemudian hari. Namun, para dokter menegaskan bahwa prosedur angioplasti koroner bukan jaminan mereka akan terbebas dari serangan jantung.

"Pasien sering mengira terapi ini akan menyelamatkan mereka dari serangan jantung atau memperpanjang usia. Tetapi sebenarnya tidak ada studi ilmiah yang menunjukkan hal tersebut," kata Dr.Aseem Malhotra, konsultan kardiologi dari Inggris.

Ia mengatakan, kebanyakan dokter jantung sering lupa untuk memberikan informasi ini kepada pasiennya.

Dalam sebuah penelitian di Amerika, diketahui 9 dari 10 pasien yang mengalami angina berulang yakin bahwa angioplasti akan menurunkan risiko mereka terkena serangan jantung.

Metode angioplasti memang kerap dipakai sebagai prosedur darurat untuk menjaga aliran darah tetap lancar pada pasien yang kena serangan jantung. Diperkirakan setiap tahunnya 60.000 pasien menjalani angioplasti akibat serangan jantung.

Malhotra menjelaskan, angioplasti memang bisa mengurangi frekuensi dan keparahan nyeri dada pada orang yang mengalami angina berulang. Tetapi, menurutnya pasien harus diberikan informasi yang lengkap sebelum membuat keputusan untuk melakukan operasi.

"Walau sudah dipasangi stent, tetapi pasien harus didorong untuk melakukan perubahan gaya hidup dan mengonsumsi obat statin untuk mengurangi risiko serangan jantung," katanya.

Sumber: health.kompas.com

Kolesterol Normal, Bukan Jaminan Bebas Penyakit Jantung Koroner

Kolesterol Normal, Bukan Jaminan Bebas Penyakit Jantung Koroner
Sering kita mendengar berita orang - orang di sekitar kita meninggal mendadak ketika sedang bekerja, berolahraga atau beraktivitas yang lain, misalnya ketika tidur. Setelah ditelusuri, ternyata mereka terkena serangan jantung dan merupakan pembunuh nomor satu di dunia. 

Jantung adalah organ paling vital dalam tubuh kita, bertugas memompa dan mengalirkan darah ke seluruh tubuh dengan membawa nutrisi dan oksigen serta kembali ke paru-paru dan jantung untuk membawa sampah metabolisme. Jantung kita tidak berhenti/ beristirahat, meskipun kita sedang tidur. 

Dalam menjalankan fungsinya itu, jantung dibantu banyak pembuluh darah di seluruh tubuh dan pembuluh utama di organ jantung yang menyerupai mahkota/corona, sehingga disebut pembuluh koroner jantung. Jika terjadi gangguan pada pembuluh koroner/tersumbat inilah yang disebut sebagai penyakit jantung koroner (PJK).

Sebenarnya serangan jantung tidak datang secara tiba - tiba, namun pada umumnya tidak disertai dengan gejala awal yang mencurigakan sehingga disebut serangan mendadak yang mematikan (suddent death). 

Dalam banyak kasus gejala atau tanda bahaya itu hanya bisa disibak oleh mereka yang teratur melakukan pemeriksaan kesehatan atau check up yang sifatnya preventif, untuk melihat risiko gangguan kesehatan walaupun tanpa disertai keluhan kesehatan dari diri Anda. 

Pentingnya Pemeriksaan Apo B dan hs - CRP 

Kolesterol tinggi bukan satu - satunya penyebab PJK. Kadar lemak yang tinggi memang merupakan salah satu faktor risiko PJK, namun dalam kenyataannya ternyata cukup banyak kasus PJK meski kadar lemak normal. 

Fakta yang terjadi adalah 1 dari 3 kasus serangan jantung terjadi pada orang dengan kadar kolesterol normal. Mengetahui kadar kolesterol konvensional (Kolesterol Total, Kolesterol LDL - direk, Kolesterol HDL, Trigliserida) tetap diperlukan, namun ada pemeriksaan lain yang dapat melengkapi penilaian risiko PJK yaitu Apo B dan hs-CRP.  

Apo B bermanfaat untuk meningkatkan prediksi risiko PJK, karena semakin tinggi kadar Apo B, semakin tinggi kemungkinan terjadinya risiko penyumbatan pembuluh darah, walaupun kadar LDL normal. 

Hs-CRP bermanfaat untuk meningkatkan prediksi terjadinya penyakit jantung karena proses aterosklerosis (penyumbatan dan pengerasan pembuluh darah) yang juga ditandai dengan adanya proses peradangan. Pemeriksaan hs-CRP ini bermanfaat untuk menentukan risiko kardiovaskular pada individu sehat. 

Selain pemeriksaan laboratorium, beberapa pemeriksaan penunjang diagnostik seperti EKG, Treadmill dan pemeriksaan imaging lainnya dibutuhkan dalam mendiagnosis penyakit jantung koroner. 

Tips Terhindar dari Penyakit Jantung

Di samping rutin check up, mulailah dengan membuat pilihan gaya hidup sehat untuk menurunkan risiko serangan jantung, diantaranya makan 5 porsi buah dan sayuran tiap hari. Hindari makanan berkadar garam tinggi seperti makanan yang diawetkan, makanan cepat saji dan makanan beku. 

Jangan lupa meningkatkan asupan serat, mengkonsumsi setidaknya 2 porsi ikan kaya omega 3, membatasi alkohol, membatasi makanan yang kaya lemak, menghentikan kebiasaan merokok, memperbanyak aktivitas fisik, relaksasi dan tertawa, dan melakukan pemeriksaan laboratorium dan tekanan darah secara berkala. 

Sumber: health.kompas.com

Selasa, 16 September 2014

Selain Melangsingkan, Air Putih Juga Efektif Cegah Sakit Jantung

Selain Melangsingkan, Air Putih Juga Efektif Cegah Sakit Jantung

Masih banyak orang beranggapan bahwa banyak minum air putih dapat menggagalkan usaha menurunkan berat badan. Padahal faktanya, kurang mengonsumsi air putih dapat menyebabkan tubuh menyimpan lemak ekstra yang berakibat naiknya berat badan. 

Bagaimana Air Putih Menurunkan Berat Badan?

Seperti kita ketahui bahwa hati mengkonversi lemak menjadi bahan bakar. Tanpa asupan air yang cukup, ginjal tidak akan berfungsi pada tingkat optimal. Akibatnya, hati akan bekerja ekstra keras untuk membantu ginjal melakukan tugasnya. Dan pada akhirnya hati tidak dapat berfungsi dengan baik.

Beberapa lemak akan tetap di dalam tubuh dan tidak dapat dikonversi menjadi bahan bakar. Ini yang menyebabkan bertambahnya berat badan.

Minum air putih setiap hari dalam jumlah yang cukup memungkinkan hati melakukan fungsinya untuk membakar lemak dan mengubahnya menjadi bahan bakar dengan optimal.

Tubuh kita mengandung lebih dari 60 persen air. Ketika tubuh mendapatkan air yang cukup, ia akan mencoba untuk menyimpan semua air itu ke dalam sel sedangkan sisanya akan dikeluarkan melalui urin.

Minum air dalam jumlah yang cukup juga dapat menurunkan rasa lapar. Minum beberapa gelas air sebelum makan juga bisa menjadi cara yang efektif untuk mencegah makan berlebihan yang dapat mengakibatkan berat badan bertambah.

Orang yang memiliki kelebihan berat badan disarankan untuk minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap harinya. Bahkan beberapa studi membuktikan bahwa air es atau air dingin juga membantu membakar kalori, dengan membantu meningkatkan metabolisme tubuh.

Jika Anda tidak terbiasa minum air putih dalam jumlah banyak, kemudian mulai mengonsumsinya dalam jumlah banyak, pada awalnya akan terasa tidak nyaman dan bahkan Anda akan sering buang air kecil. Ini hal yang wajar dan setelah berjalannya waktu tubuh Anda akan terbiasa dengan kebiasaan baru mengonsumsi air putih.


Manfaat Lain Mengonsumsi Air Putih

Selain membantu menurunkan berat badan, mengonsumsi air putih juga memiliki berbagai manfaat positif bagi kesehatan, seperti:

- Cegah Sakit Jantung
Menurut sebuah studi yang diterbitkan di American Journal of Epidemiology, orang yang terbiasa minum air putih lebih dari 5 gelas setiap hari mengalami penurunan risiko sebesar 41 persen akibat penyakit jantung dan kematian mendadak.

- Cegah Migrain
Menurut para peneliti dari University of Masstricht, Belanda, minum air putih tujuh gelas dalam sehari dapat meredakan sakit kepala dan meningkatkan kualitas hidup penderita migrain.

Peneliti mengatakan bahwa sakit kepala yang dialami penderita migrain dapat berkurang dalam 21 jam jika mereka minum 1,5 liter air.

- Tingkatkan Ketajaman Otak
Otak membutuhkan oksigen untuk bisa bekerja sesuai fungsinya. Dengan minum banyak air putih, Anda bisa memastikan bahwa otak telah terpenuhi kebutuhan oksigennya. Bahkan minum 8-10 gelas air perhari dapat memperbaiki kemampuan kognitif otak sebesar 30 persen.

- Cegah Penuaan Dini
Kulit kering menjadi salah satu penyebab terjadinya penuaan dini. Air dapat melembabkan kulit, membuatnya tampak segar dan terbebas dari kulit kering, sehingga membuat wajah Anda awet muda meski usia bertambah.

Yuk, biasakan minum air putih mulai sekarang!


Sumber: health.kompas.com 

Senin, 15 September 2014

Bahaya Perut Buncit pada Pria

Bahaya Perut Buncit pada Pria
Jika dulu orang yang ekonominya makmur digambarkan dengan kondisi perut buncit, kini pria yang memiliki perut buncit justru menunjukkan kesadarannya yang rendah akan gaya hidup sehat. 

Jika Anda termasuk dalam orang yang perutnya bergelambir, Anda tidak sendiri. Tetapi Anda jangan bangga dengan lebarnya lingkar perut. Tumpukan lemak di perut harus diwaspadai, karena sejatinya Anda sedang menumpuk bahaya.

Seseorang disebut memiliki perut buncit jika ukurannya lebih dari 95 cm, sementara pada wanita lebih dari 80 cm.

"Lemak di perut bukan terbatas pada lapisan lemak yang berada di bawah kulit (lemak subkutan), tapi juga termasuk lemak viseral yang berada di bawah perut dan menyelimuti organ-organ dalam," kata Michael D.Jensen, ahli endokrinologi dari Mayo Clinic, Rochester, AS.

Orang yang berperut buncit memiliki risiko lebih besar menderita penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes melitus, kanker kolorektal, serta henti napas saat tidur (sleep apnea).

Sebenarnya, apa yang membuat perut buncit? Tentu saja ini sangat dipengaruhi oleh asupan kalori yang masuk dan energi yang dibakar. Jika Anda makan terlalu banyak tapi jarang bergerak, tentu saja kelebihan kalori itu akan disimpan sebagai lemak.

Faktor usia juga berpengaruh. Bertambahnya usia akan membuat kita kehilangan otot, terutama jika kurang berolahraga dan lebih banyak duduk. Berkurangnya massa otot akan menurunkan kecepatan tubuh menggunakan kalori. 

Kemampuan sel lemak di tangan dan kaki juga akan berkurang dalam menyimpan lemak, sehingga jika ada kelebihan lemak ia akan turun ke perut. 

Berbagai penelitian menunjukkan, lemak yang disimpan dalam perut ini tidak berfungsi sebagai cadangan tenaga seperti halnya lemak di bagian tubuh lainnya. Lemak viseral ini secara biologis sangat aktif dan menghasilkan hormon dan zat kimia tertentu sehingga menyebabkan gangguan keseimbangan hormonal, gangguan metabolisme, dan lain sebagainya. 

Zat dan hormon yang dihasilkan lemak perut ini juga bisa memicu peradangan (inflamasi). Hal ini pada akhirnya bisa memicu berbagai penyakit.

Mengingat bahaya yang tersimpan di lemak perut, maka jangan biarkan lemak bercokol lama. Setiap lemak perut bisa dihilangkan, yang dibutuhkan adalah usaha dan kesabaran. 

Lakukan perubahan pola hidup. Mulailah membatasi porsi makan dan lebih banyak bergerak. Selain berolahraga rutin, jangan isi sebagian besar waktu Anda dengan duduk diam. Ambil jeda setiap satu jam dan bergeraklah. 

Sumber : health.kompas.com