Sabtu, 04 Oktober 2014

Penciuman Tetap Baik Berkat Olahraga


Penciuman Tetap Baik Berkat Olahraga
Olahraga teratur tidak hanya menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes, dan penyakit-penyakit degeneratif lainnya. Sebuah studi baru menemukan, aktivitas olah fisik juga dapat menekan risiko hilangnya kemampuan indera penciuman karena usia tua.

Studi tersebut melibatkan 1.600 orang yang berusia 53-97 tahun yang tidak mengalami gangguan penciuman apapun saat studi dimulai. Para peneliti kemudian mengikuti peserta hingga 10 tahun kemudian. 

Selama periode studi, mereka melakukan tes penciuman pada peserta sebanyak tiga kali. Mereka menggunakan delapan wewangian, termasuk cokelat dan kopi. Peneliti juga meminta peserta melaporkan kebiasaan berolahraga mereka.

Setelah periode studi berakhir, peneliti menemukan, sebanyak 28 persen peserta mengalami gangguan penciuman. Mereka pun menyimpulkan, ada kaitan antara kebiasaan berolahraga dan kemampuan indera penciuman, bahkan setelah disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin.

Studi yang dipublikasi dalam jurnal JAMA Otolaryngology-Head & Neck Surgery tersebut menemukan, peserta yang melaporkan melakukan olahraga minumal seminggu sekali cenderung memiliki risiko yang lebih kecil mengalami gangguan penciuman di kemudian hari.

"Semakin banyak orang berolahraga, semakin rendah risiko gangguan penciumannya," ungkap para peneliti.

Kemampuan penciuman memiliki banyak kegunaan, antara lain membantu mengenali senyawa kimia beracun dan menambah cita rasa makanan. Kemampuan tersebut dapat menurun seiring bertambahnya usia. Terkait jenis kelamin, risiko pria untuk mengalami penurunan kemampuan penciuman lebih tinggi dibanding wanita.

Studi menemukan sekitar 25 persen peserta yang berusia 53 tahun atau lebih sudah mulai terkena gangguan penciuman. Selain usia, faktor risiko dari gangguan ini yaitu merokok dan memiliki polip hidung.

Belum jelas bagaimana olahraga dapat menjaga kemampuan penciuman. Namun para peneliti berpendapat, aktivitas ini memperbaiki fungsi otak dan kesehatan secara keseluruhan, sehingga juga memperbaiki kinerja indera pencium.

Sumber : Merdeka.com

Bukan Makanan Manis yang Sebabkan Diabetes

Bukan Makanan Manis yang Sebabkan Diabetes
Meski penyakit diabetes atau awam menyebutnya "sakit kencing manis" telah diketahui sejak 1500 SM, hingga saat ini masih banyak orang yang tidak memahami penyakit tersebut. Salah satunya adalah anggapan bahwa diabetes disebabkan hobi mengasup makanan manis.

Diabetes melitus adalah penyakit yang ditandai oleh tingginya kadar gula dalam darah. Hal ini terjadi karena tubuh kekurangan hormon insulin, zat yang diproduksi oleh kelenjar pankreas dan diperlukan untuk mengubah makanan menjadi energi. 

Menurut dr Rochismandoko, Sp PD, gaya hidup kurang gerak merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya penyakit ini. "Kurang olahraga, terlalu banyak duduk, dan pola makan yang salah merupakan penyebab penyakit ini," katanya dalam acara peluncuran aplikasi Dokter Diabetes di Jakarta, Rabu (11/6/2014).

Nafsu makan berlebih dan kurangnya aktivitas fisik pada akhirnya akan menyebabkan kegemukan yang merupakan salah satu pencetus diabetes. 

Meski makanan manis bukanlah penyebab diabetes, pengaturan makan merupakan pilar terpenting dalam pengendalian penyakit ini. Setiap penyandang diabetes harus mau belajar mengenali makanan yang menyebabkan gula darah tinggi dan berusaha menghindarinya. 

Pengaturan makan dimaksudkan agar kita tetap bisa mengonsumsi berbagai variasi makanan yang menyediakan zat gizi penting, tetapi kebutuhannya sesuai sehingga insulin dalam tubuh mencukupi. 

Mereka yang diabetes bisa makan makanan yang sama seperti orang lain, tetapi penting untuk mengawasi jumlahnya. Jika kadar gula darah sudah terlalu tinggi, maka bukan hanya makanan mengandung gula yang perlu dihindari, melainkan terkadang juga lemak dan garam.

Sumber : Merdeka.com

Obat Diabetes Bikin Panjang Umur

Obat Diabetes Bikin Panjang Umur
Obat yang diresepkan untuk penyakit diabetes ternyata tidak hanya bermanfaat untuk mengelola penyakit itu saja, tetapi juga untuk membantu orang yang mengonsumsinya hidup lebih panjang.

Sebuah studi menemukan metformin, obat yang berguna untuk mengontrol gula darah juga dapat mencegah penyakit jantung dan pembuluh darah, serta kanker, meskipun pada orang tanpa diabetes.

Peneliti menganalisis pada lebih dari 180.000 orang dan menemukan perubahan signifikan pada mereka yang diberi metformin, dibandingkan dengan obat anti-diabetes lainnya, baik pada orang dengan diabetes dan orang tanpa diabetes.

Kendati demikian, peneliti mengatakan periode waktu tindak lanjut studi relatif pendek sehingga sebenarnya belum dapat disimpulkan demikian. Pasalnya komplikasi diabetes juga dapat memburuk seiring waktu sehingga berhubungan dengan kematian yang lebih cepat.

Ketua penelitian Profesor Craig Currie dari Cardiff University School of Medicine mengatakan, pasien yang diterapi dengan metformin menunjukkan perbaikan yang signifikan untuk ketahanan hidup dibandingkan dengan mereka yang hidup tanpa diabetes. Namun yang mengejutkan, temuan ini mengindikasikan bahwa obat itu juga memiliki dampak menguntungkan bukan hanya pada pasien diabetes, melainkan juga pada pasien tanpa diabetes.

"Metformin menunjukkan manfaat anti-kanker dan anti-penyakit kardiovaskular, sehingga membantu untuk menurunkan risiko panyakit tersebut hingga sepertiganya, khususnya pada orang pradiabetes," ujarnya.

Meski begitu, untuk mendapatkan manfaat optimal dari obat, lanjut dia, orang pradiabetes tipe 2 juga perlu mengurangi berat badannya dengan menjaga pola makan dan berolahraga.

Sementara itu, hasil studi ini juga cocok pada kelompok orang tanpa diabetes yang dengan umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok dan status klinis apapun, bila ekspektasi usia mereka dibandingkan.

Studi yang dipublikasi dalam jurnal Diabetes, Obesity and Metabolism itu juga mencatat, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dampak metformin pada orang sehat, khususnya juga untuk efek samping yang dihasilkannya.

Sumber : Merdeka.com

Makanan Sahabat Diabetes

Makanan Sahabat Diabetes
Tidak ada makanan super yang bisa ampuh menurunkan kadar gula darah seorang diabetesi. Mau tak mau seorang diabetesi harus menjaga kadar  gula darah dengan pola makan dan olah raga yang tepat supaya penyakitnya terkontrol. 

Belakangan ini kayu manis diberitakan sebagai bahan pangan yang mungkin bisa menurunkan risiko diabetes atau membantu mengontrol kadar gula darah. Meskipun mungkin kayu manis bisa membantu mengontrol gula darah, para ahli tetap mengingatkan tidak ada makanana ajaib untuk mengontrol kadar gula para diabetesi.

“Tidak ada ramuan ajaib untuk diabetes,” kata juru bicara American Dietetic Association Cathy Nonas, RD. Menurutnya, diabetesi tetap perlu mengatur pola makan seimbang dan olah raga teratur utuk mengontrol diabetes.

Makanan seperti roti dan nasi putih sebaiknya dihindari oleh diabetesi. Roti dan nasi putih langsung diubah menjadi gula darah. Ini yang menyebabkan kenaikan gula darah mendadak. Sementara makanan seperti nasi merah dicerna lebih lambat sehingga tidak menimbulkan kenaikan gula darah mendadak.

Untuk mereka yang mengikuti pola makan diabetesi yang sehat, berikut ini makanan yang bisa membantu gula darah terkendali.
Oatmeal
Oatmeal bisa membantu mengontrol gula darah asalkan tidak ditambah dengan gula. “Meskipun oatmeal adalah karbohidrat, ini karbohidrat jenis yang baik karena tinggi kandungan seratnya sehingga lambat dierna dan tidak menaikkan gula darah dengan cepat.,” kata juru bicara American Dietetic Association Marisa Moore, RD, LD. 

Bukan hanya mengontrol gula darah, oatmeal juga memberikan sumber energi yang lebih stabil buat tubuh dibanding roti putih atau nasi putih. Plus juga mebantu menurunkan berat badan. Adalah penting bagi diabetesi tipe dua untuk menurunkan berat badan. “Ketika berat badan turun, gula darah juga terkontrol secara signifikan,” kata Nonas. 

Brokoli, Bayam dan Kacang Hijau
Di samping mengonsumsi karbohidrat berserat tinggi, diabetesi perlu juga mengonsumsi sayuran seperti brokoli, bayam dan kacang hijau. Sayuran ini kaya serat dan rendah karbohidrat sehingga ideal untuk kaum diabetesi.

Lebih baik lagi jika porsi sayuran ini diperbanyak. Sebuah penelitian yang diterbitkan di DiabetesCare, terbukti 43 persen diabetesi tipe 2 yang mengikuti pola makan vegetarian rendah lemak selama 22 minggu mengalami penurunan kebutuhan akan obat-obatan diabetes. Angka 43 persen itu lebih tinggi dibandingkan 26 persen diabetesi yang mengikuti diet ala American Diabetes Association.

Stroberi
Buah seperti stroberi untuk dijadikan camilan tidak akan meningkatkan kadar gula darah. Sebab stroberi itu rendah kalori dan karbohidrat, kaya serat dan air sehingga perut jadi kenyang lebih lama. Diabetesi akan merasa kenyang hanya dengan mengonsumsi sedikit karbohidrat. 

Salmon dan Daging Tanpa Lemak
Daging yang kaya protein tidak mempengaruhi gula darah seperti karbohidrat. Demikian kata Nonas. Namun sumber protein untuk diabetesi itu sebaiknya dengan porsi secukupnya dan berupa ikan, dada ayam tanpa kulit atau daging tanpa lemak.

Ikan salmon adalah sumber protein yang bagus untuk diabetesi karena mengandung asam lemak omega tiga. Asam lemak ini bagus untuk menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke. Sebagaimana diketahui 65 persen diabtesi meninggal karena penyakit jantung dan stroke. 

Kayu Manis
Baru-baru ini diberitakan kayu manis sebagai bumbu yang punya efek seperti insulin dan membantu menurunkan gula darah diabetesi. Hal ini diteliti oleh ilmuwan dari Jerman. Mereka menyimpulkan bahwa ekstrak kayu manis tampaknya punya dampak moderat menurunkan gula darah diabetesi, khususnya mereka yang sulit mengontrol gula darah.

Namun jangan buru-buru mengonsumsi kayu manis banyak-banyak. Diperlukan studi lebih lanjut sebelum dokter merekomendasikan kayu manis untuk diabetes.

Sumber : Merdeka.com

Olahraga Malam Hari, Baguskah untuk Kesehatan?

Olahraga Malam Hari, Baguskah untuk Kesehatan?
Bekerja dari pagi hingga malam membuat seseorang tak memiliki waktu yang banyak untuk olahraga. Mereka pun menyempatkan olahraga pada malam hari. Namun, masih banyak yang bertanya-tanya apakah olahraga pada malam hari baik untuk kesehatan. 

Dokter spesialis olahraga, Andi Kurniawan mengatakan, olahraga sebenernya sangat baik dilakukan pada pagi hari di mana udara lebih segar dan terpapar sinar matahari. Akan tetapi, jika tidak sempat melakukannya pada pagi hari, olahraga pada sore hingga malam hari pun tidak masalah bagi kesehatan. 

"Mereka yang enggak sempat olahraga di pagi hari, baru sempatnya malam hari akan jauh lebih baik daripada yang tidak olahraga sama sekali. Sekarang, kan banyak yang olahraga, lari malam di Senayan, itu enggak ada masalah," ujar Andi di Jakarta, Jumat (3/10/2014). 

Andi mengatakan, olahraga malam hari tidak disarankan terlalu malam atau mengganggu waktu tidur. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas tidur Anda. Selesai berolahraga, Anda pun sebaiknya tidak langsung tidur. Berilah jeda sekitar 1 sampai 1,5 jam dari waktu olahraga dan tidur.

"Olahraga malam hari juga harus dengan pemanasan terlebih dahulu. Lalu ketika selesai lakukan pendinginan dan peregangan. Jangan langsung tidur," kata Andi. 

Andi menjelaskan, olahraga pada orang dewasa direkomendasikan paling sedikit 150 menit dalam lima hari atau 30 menit per hari. Jika tak banyak cukup waktu, olahraga boleh saja dilakukan secara bertahap dalam satu hari. Misalnya, 10 menit pagi hari dan sisanya pada siang, sore atau malam hari. 

Menurut dia, tidak ada batasan waktu berapa lama sebaiknya seseorang olahraga di malam hari. Pada prinsipnya, berolahragalah sesuai kemampuan dan kondisi tubuh. Jika tidak terbiasa berolahraga, mulailah dengan melakukan aktivitas fisik yang ringan. Yang terpenting, jangan biarkan diri Anda tidak bergerak aktif. Sempatkan lah melakukan aktivitas fisik atau olahraga setiap hari untuk hidup yang lebih sehat.

Sumber : Merdeka.com

Waspadalah jika Kemampuan Indera Penciuman Berkurang

Waspadalah jika Kemampuan Indera Penciuman Berkurang
Waspadalah ketika indera penciuman tak lagi tergoda wangi parfum ataupun sedapnya aroma makanan. Ada kemungkinan kita menderita penyakit serius. Penelitian baru menemukan pria dan wanita yang kehilangan ketajaman indera penciuman lebih rentan enam kali untuk meninggal dalam lima tahun ke depan.

Ketidakmampuan mengidentifikasi ikan, mawar, kulit, jeruk, dan pepermint, lima aroma yang digunakan dalam penelitian, dapat memprediksi kematian dalam lima tahun. Temuan ini memang aneh dan mengejutkan namun penciuman yang buruk menaikkan risiko kematian lebih dari penyakit medis termasuk kanker.

Peneliti dari Amerika Serikat mengatakan, memburuknya penciuman tak secara langsung menyebabkan kematian. Berkurangnya penciuman itu merupakan peringatan dini atas sesuatu yang berjalan tak semestinya. Mereka percaya bahwa uji penciuman sederhana bisa digunakan untuk mengidentifikasi lansia yang paling berisiko mengalami kematian dini.

"Dari semua indera manusia, penciuman termasuk paling diremehkan, sampai penciuman itu hilang," ujar Jayant Pinto, peneliti dari University of Chicago.

Para ahli dari Inggris memperingatkan masyarakat untuk tidak panik. Menurut mereka, diperlukan riset lebih jauh untuk mengonfirmasi kebenaran penelitian tersebut.

Riset yang pertama meneliti penciuman dan kematian ini melibatkan lebih dari 3.000 pria dan wanita usia 57 dan 58. Mereka diminta menjalani tes penciuman tiga menit. Mereka diminta mencium wangi yang diberikan lewat peralatan yang mirip ujung pena dan diberikan empat jawaban yang mungkin. Mereka menjalani tes ini selama lima kali. Wewangian yang diberikan diurutkan dari yang mudah ke sulit, pepermint, ikan, jeruk, mawar, dan kulit.

Sebagian besar pria dan wanita itu paling tidak menjawab empat pertanyaan dengan benar. Itu artinya, mereka memiliki penciuman normal. Hampir 20 persen hanya mengidentifikasi dua atau tiga. Ini menandakan sedikit berkurangnya penciuman. Sekitar 3,5 persen hanya menjawab satu dengan benar atau salah semua. Mereka ini dikatakan menderita anosmic atau kehilangan penciuman sama sekali.

Lima tahun kemudian, 430 pria dan wanita itu meninggal. Mereka yang gagal dalam tes tersebut sekitar enam kali lebih berisiko meninggal dibandingkan mereka yang memiliki penciuman sehat. Begitu kata penelitian yang dimuat di jurnal PLOS ONE.

Penemuan tersebut sebagian bisa dijelaskan dengan usia, jenis kelamin, dan status sosial ekonomi. Namun, ketika semua faktor itu diperhitungkan, mereka yang kehilangan indera penciuman berisiko lebih besar tiga kali untuk meninggal. Bahkan kehilangan penciuman dengan level sedang bisa meningkatkan risiko kematian dini.

Sebenarnya, tidak mampu mencium dengan benar memberikan peringatan dini akurat akan adanya kematian dini dibandingkan penyakit kanker atau gagal jantung. Hanya kerusakan hati parah yang sangat terkait dengan kematian dalam lima tahun ke depan.

"Menurut kami, kehilangan penciuman itu seperti burung kenari di tambang batu bara. Kehilangan penciuman tak secara langsung menyebabkan kematian, melainkan pertanda, petunjuk dini akan sesuatu yang salah di tubuh kita," kata Dr. Pinto.

Satu kemungkinannya adalah kesehatan saraf penciuman yang membawa informasi bebauan dari hidung ke otak yang merupakan tanda kesehatan secara keseluruhan. Kalau saraf itu menjadi tua, rusak, dan tak dapat memperbaiki dirinya sendiri, tubuh dan otak juga akan rusak.

Penjelasan yang mungkin lainnya adalah keberadaan infeksi, racun, dan polutan yang terhirup merusak indera penciuman sebelum merusak otak dan tubuh. "Polusi bisa memengaruhi jantung, paru-paru, dan otak lalu menyebabkan terjadinya kematian dini," kata Pinto.

Nirmal Kumar, konsultan bedah kepala dan leher, mengatakan, hasil riset tersebut menarik, tetapi mempertanyakan keandalan tes bebauan yang digunakan. Ia bisa memberikan 40 aroma berbeda untuk pasiennya, tak sekadar lima untuk mendeteksi apakah mereka kehilangan kemampuan untuk mengidentifikasi bebauan. Sebelumnya, ditemukan kehilangan indera penciuman ternyata berkaitan dengan penyakit alzheimer dan parkinson tahap dini.
 
Sumber : Merdeka.com

Kiat Aman Menyantap Banyak Daging saat Idul Adha

Kiat Aman Menyantap Banyak Daging saat Idul Adha
Daging kambing maupun sapi bakal menjadi hidangan utama di hari raya Idul Adha yang dirayakan umat muslim di Indonesia. Anda pun sering kali sulit menahan diri untuk menyantap semua hidangan yang ada di hari raya.

Melihat lezatnya sajian di Hari Raya seakan lupa akan dampak memakan daging terlalu banyak bagi kesehatan. Daging merah mengandung lemak yang dapat menyebabkan kolesterol maupun kadar gula darah menjadi tinggi.

"Makanan berlemak sangat berpengaruh pada diabetisi yang disertai dengan gangguan lemak. Gangguan tersebut biasanya dikenal dengan sindroma metabolik," ujar Kepala Divisi Metabolik Endokrin Departemen IPD FKUI dan juga dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Em Yunir di Jakarta, Rabu (24/9/2014).

Jika ingin tetap menyantap daging sekaligus menjaga kondisi kesehatan tetap stabil, lakukan hal ini.

Pilih masakan rendah lemak
Makanlah daging yang paling rendah kandungan lemaknya, yaitu pada bagian paha. Kandungan lemak yang cukup tinggi yaitu pada bagian perut dan iga. Selain itu, jika ingin mengurangi lemak, buanglah air yang digunakan untuk merebus daging.

"Saat merebus daging, kan lemaknya naik ke permukaan. Buang saja bagian itu," kata Yunir.
Setelah itu, Anda bisa merebusnya kembali dan membubui masakan. Opsi lainnya, hindarilah masakan bersantan dan menggantinya dengan yang bening.

Imbangi dengan sayur dan buah-buahan.
Selain mengonsumsi banyak daging, jangan lupa untuk makan sayur-sayuran dan buah-buahan. Konsumsi lebih banyak sayur dan buah lebih baik. Pilihlah buah yang kaya antioksidan. "Kalau makan apel, makan juga kulitnya. Kandungan antioksidan ada di kulitnya," kata Yunir.

Tingkatkan aktivitas fisik
Aktivitas fisik maupun berolahraga perlu ditingkatkan setelah Anda mengosumsi banyak makanan berlemak. Aktivitas fisik maupun berolahraga dapat membakar kalori dalam tubuh. Lakukan lah aktivitas fisik sekitar 30 menit sampai 1 jam.

Sumber : Merdeka.com