Senin, 06 Oktober 2014

Gangguan Bipolar Bisa Diobati

Gangguan Bipolar Bisa Diobati
Penyakit gangguan bipolar belakangan ini makin sering diperbincangkan setelah aktris peran dan penyanyi Marshanda mengaku pernah didiagnosa menderita bipolar.

Penderita bipolar sebenarnya cukup banyak di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh dr.Andri, SpKJ. "Penderitanya banyak, tapi banyak yang tidak sadar kalau punya gangguan ini," ujarnya.

Cap gila juga kerap disematkan masyarakat pada penderita gangguan bipolar sehingga mereka menutup diri dan enggan berobat.

Bipolar adalah gangguan pada alam perasaan (mood) yang berubah-ubah dalam periode waktu tertentu. Satu ketika, penderita mengalami depresi sehingga menjadi murung, diam, atau menarik dari lingkungan. Di waktu lain, ia mengalami manik (mania) yang ditunjukkan dengan semangat menggebu dalam beraktivitas, tak pernah lelah, dan tak tidur berhari-hari.

Berbeda dengan depresi atau manik yang dialami manusia pada umumnya, gejala pada penderita bipolar terjadi secara berulang dan berlangsung seumur hidup. Gejala yang muncul terkadang bercampur atau berubah sangat cepat.

Gangguan bipolar terdiri dari dua jenis, yakni gangguan bipolar tipe 1 dan bipolar tipe 2. Gangguan bipolar tipe 1 merupakan penyakit kronis yang sering kambuh dan bersifat episodik, dalam arti ada periode sakit dan ada periode normal. Kekambuhan bisa dipicu oleh stresor psikososial, misalnya pertengkaran, percerian, atau kehilangan orang tercinta.

Gangguan bipolar tipe 2 umumnya lebih ringan. Periode kekambuhannya lebih ringan dan ada episode hipomania dan episode depresi mayor. Gejalanya lebih singkat waktunya, lebih ringan dan tidak mencolok.

"Untuk diagnosis bipolar tipe 2 memang lebih sulit, karena fase hipomanik kadang bisa dianggap oleh pasien bahwa ia tidak sakit, hanya sedang bersemangat saja," kata dokter dari RS.Omni Alam Sutera Tangerang ini.

Bisa diobati

Gangguan bipolar sering berkembang di akhir masa remaja seseorang atau dewasa awal. Setidaknya setengah dari semua kasus dimulai sebelum usia 25 tahun. Sebanyak 79 persen kasus bipolar disebabkan oleh faktor genetik. Tetapi gen ini baru akan memicu bipolar jika penderita mengalami stres psikososial yang tak mampu diatasinya.

Terdapat beberapa cara untuk mengenali gejala gangguan bipolar, yakni melakukan pemeriksaan dengan cara wawancara klinis dan diagnosis dini. "Wawancara psikiatrik adalah tools utama dalam memeriksa status mental individu," katanya.

Sama dengan penyakit kronis lainnya, pengobatan yang tepat bisa membuat penderita bipolar hidup normal dan membuat prestasi membanggakan. Mengontrol emosi dan mood penderita adalah cara terbaik untuk pengobatan.

Penderita bipolar juga perlu mendapat kenyamanan dan kehangatan dari orang-orang di sekitarnya. Diperlukan kesabaran dan optimisme dari orang-orang terdekat agar penderita menjalani pengobatan hingga tuntas. 

Sumber : Merdeka.com

Apakah Konsumsi Obat Kedaluwarsa Berbahaya?

Apakah Konsumsi Obat Kedaluwarsa Berbahaya?
Makanan yang sudah kedaluwarsa tentu sudah tidak enak disantap dan berbahaya bagi kesehatan. Namun, bagaimana dengan obat? Karena obat juga punya tanggal kedaluwarsa, apa yang bisa terjadi jika seseorang mengonsumsi obat yang sudah "basi"?

Banyak orang bingung harus berbuat apa ketika tanggal yang tertera pada obat paten sudah lewat. Ada yang segera membuang obat tersebut, ada yang masih mau meminumnya, dan ada yang hanya menyimpannya di laci.

Sharon Bergquist, dokter penyakit dalam dan asisten profesor obat di Universitas Emory, Atlanta, memberi penjelasan tentang obat dan tanggal kedaluwarsanya.

Alasan hukum

Sejak tahun 1979, FDA mewajibkan produsen obat untuk mencantumkan tanggal kedaluwarsa, baik obat generik maupun paten. Mayoritas konsumen tidak paham apa arti dari tanggal tersebut. "Tanggal yang tercantum adalah batas waktu yang produsen jamin ketika obat tersebut masih ampuh," kata Bergquist.

Meski begitu, jika sudah lewat tanggalnya, tidak berarti obatnya langsung tidak manjur atau berbahaya. "Umumnya, tanggal kedaluwarsa tersebut adalah 12 hingga 60 bulan sejak diproduksi," katanya. Dalam banyak kasus, obat-obat yang sudah kedaluwarsa belum pernah diuji keefektifan atau potensi meracuninya.

Ada apoteker yang menuliskan peringatan untuk segera membuang obat bila sudah lewat tanggal yang ditetapkan. Biasanya, masa tersebut adalah satu tahun setelah obat itu dibuka dari kemasan. "Aturan ini diwajibkan di 17 negara bagian, tapi sebenarnya masih sangat sedikit riset mengenai ini. Sangat mungkin kalau ada obat yang masih bisa diminum setelah 10 tahun lebih," ujar Bergquist.

Pernah diuji

Atas permintaan Departemen Pertahanan, FDA melakukan sebuah riset tentang usia obat-obatan yang umum dikonsumsi. Obat-obat itu disimpan dalam kondisi dan iklim yang normal, bukan dalam situasi yang lembab seperti di kamar mandi.

FDA menguji seluruh persediaan obat Dephan sejak 1986 hingga 2006 untuk mengetahui apakah obat-obat itu sudah harus dibuang. Terdapat 122 jenis obat dalam 3.005 kelompok.

"Ternyata 88 persen dari 3.005 obat itu masih dapat diperpanjang tanggal kedaluwarsanya hingga rata-rata 66 bulan (5,5 tahun)," katanya.

Potensi vs efikasi

Meski demikian, Bergquist mengatakan tak akan menganjurkan pasiennya untuk mengonsumsi obat kedaluwarsa. Ia menyebut ada dua skenario terkait obat kedaluwarsa. Pertama, bila seseorang harus rutin minum obat seperti nitrogliserin atau insulin, maka obat tersebut wajib dijaga kualitasnya dan menghindari obat yang sudah kedaluwarsa.

Situasi kedua, bila seseorang mengalami sakit ringan, seperti demam, sakit kepala, ataupun sakit pinggang. "Tidak apa-apa bila Anda hanya punya obat kedaluwarsa di rumah. Masih aman untuk mengonsumsinya walaupun keampuhannya sudah tidak 100 persen," katanya

Jaga kualitas obat

Beberapa bentuk obat lebih awet dibanding yang lain. Yang paling stabil adalah tablet dan kapsul, tetapi obat berbentuk tablet paling awet. Obat cair atau yang harus dimasukkan ke lemari es paling cepat rusak dan dihindari pemakaiannya setelah tanggal kedaluwarsa.

Tanda-tanda obat yang rusak antara lain berbau kuat, jika ada obat yang merembes ke luar atau terkristalisasi. Untuk menjaga daya tahan obat, setidaknya hingga tanggal kedaluwarsa, simpanlah di tempat yang kering, sejuk, dan terhindar dari sinar matahari langsung. Pastikan juga botolnya tertutup rapat.

Obat-obatan rusak sebenarnya aman untuk dibuang di tempat sampah. Namun, FDA menyarankan untuk membuangnya di kloset.

Sumber : Merdeka.com

Pengobatan yang Tepat untuk Gangguan Bipolar

Pengobatan yang Tepat untuk Gangguan Bipolar
Gangguan bipolar merupakan penyakit kejiwaan yang ditandai dengan perubahan nuansa hati (mood) yang ekstrem. Gejala gangguan bipolar terdiri dari dua episode utama yaitu mood elasi yang disebut dengan manik dan mood depresi. Karena ada depresi, terkadang orang dengan gangguan bipolar mendapat diagnosis yang keliru menjadi depresi mayor.

Saat terdiagnosis dengan depresi, terapi obat-obatan yang digunakan adalah pemberian antidepresan. Padahal obat-obatan antidepresan bukanlah obat yang tepat untuk gangguan bipolar dan justru akan memperburuk kondisi.

Nurmiati Amir, psikiater dari Departemen Psikiatri FKUI/RSCM, mengatakan, kalau antidepresan diberikan pada orang dengan gangguan bipolar justru akan memicu episode manik. "Obat depresi mayor dengan gangguan bipolar berbeda. Maka orang dengan gangguan bipolar tidak akan menunjukkan respons yang baik jika diberikan obat yang salah," ujarnya pekan lalu di Jakarta.

Jika penggunaan antidepresan diteruskan, maka akan terjadi siklus yang cepat antara episode manik dan depresi atau yang disebut dengan rapid cycling. Seseorang dengan gangguan bipolar dikatakan mengalami rapid cycling bila ia mengalami paling tidak empat kali siklus dalam setahun. Satu kali siklus dimaksudkan untuk pergantian antara episode manik dan depresi.

Salah diagnosis gangguan bipolar biasanya terjadi karena episode yang sering ditemukan di awal adalah depresi. Bahkan episode ini bisa terjadi berulang-ulang sebelum episode manik muncul. Khususnya pada wanita.

Obat-obatan yang digunakan untuk gangguan bipolar adalah obat golongan mood stabilizer. Kerja obat ini adalah untuk menekan perubahan mood antara manik dan depresi.

Obat-obatan mood stabilizer antara lain terdiri dari mineral seperti litium, dan anti-konvulsan. Sejauh ini hanya obat-obatan tersebut yang memberikan dampak untuk pengobatan gangguan bipolar. Menurut Nurmiati, belum ada obat-obatan herbal untuk mengatasi gangguan bipolar.

Sumber : Merdeka.com

Pasien Radang Sendi Terlalu Banyak Konsumsi Obat Antinyeri

Pasien Radang Sendi Terlalu Banyak Konsumsi Obat Antinyeri
Obat-obatan antinyeri merupakan andalan orang yang menderita penyakit radang sendi atau artritis. Meski obat tersebut tak bisa menyembuhkan, tapi akan mengurangi gejala nyeri dan mendukung tingkat mobilitas.

Penelitian menunjukkan, 97 persen pasien osteoartritis mengalami keterbatasan gerak dan 7 dari 10 pasien mobilitasnya berkurang, bahkan sebagian tidak bisa bergerak.

Setiap tahun nyeri yang dialami pasien artritis akan semakin bertambah sehingga ketergantungan pada obat pereda nyeri makin besar. Obat itu paling tidak membantu mereka melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan atau naik tangga. Padahal, konsumsi obat antinyeri yang terlalu sering sangat berbahaya.

Sebuah studi yang dilakukan di Inggris terhadap penderita artritis menemukan, 90 persen pasien minum obat antinyeri. Selain itu tigaperempat pasien menggunakan lebih dari satu obat untuk menjaga kondisinya.

Walau demikian, hampir separuh pasien mengeluhkan efek samping dari obat-obatan tersebut. Bahaya dari konsumsi obat antinyeri yang terlalu sering antara lain perdarahan usus, serangan jantung, dan stroke.

Obat antinyeri yang biasa dikonsumsi antara lain obat jeni nonsteroidal anti-inflammatories (NSAID), misalnya aspirin, ibuprofen, naproxen, celecoxib dan disclofenac. Sebagian diresepkan dokter dan lebih banyak obat yang dijual bebas.

Rasa nyeri adalah gejala utama dari artritis dan gangguan muskuloskeletal. Untuk beberapa orang, rasa sakit tersebut berlangsung lama dan menghambat mereka melakukan berbagai aktivitas.

Radang sendi memang belum ada obatnya, karena itu terapi yang diberikan dokter adalah menghilangkan rasa sakitnya sehingga pasien tetap bisa beraktivitas.

Sumber : Merdeka.com

Makin Lama Dirawat di Rumah Sakit, Risiko Infeksi Makin Besar

Makin Lama Dirawat di Rumah Sakit, Risiko Infeksi Makin Besar
Siapa yang betah berlama-lama tinggal di rumah sakit? Selain karena rasa bosan dan terapi pengobatan yang tidak enak, ternyata opname yang lama di rumah sakit dapat meningkatkan risiko terkena infeksi yang lebih parah.

Menurut para peneliti, semakin lama seseorang tinggal di rumah sakit, semakin rentan ia terkena infeksi bakteri yang kebal obat.

Sebuah riset dilakukan untuk meneliti 949 kasus infeksi dari serangga yang tahan obat bernama bakteri gram-negatif dari tahun 1998 hingga 2011. Hasilnya menunjukkan bahwa satu hari menginap di rumah sakit saja akan memperbesar risiko terkena infeksi kebal obat sebesar 1%.

Infeksi bakteri gram-negatif diketahui menjadi penyebab masalah dari beberapa penyakit akut dan infeksi seperti pneumonia (radang paru), infeksi saluran darah, infeksi pascaoperasi dan meningitis.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengatakan bahwa bakteri gram-negatif resisten terhadap sejumlah jenis obat dan semakin kuat terhadap beberapa antibiotik.

Penggunaan obat dan antibiotik yang tidak rasional membuat serangga itu terbiasa terhadap semua obat itu. Akibatnya, mereka bermutasi sehingga obat itu jadi tidak efektif untuk melawan penyakit.

CDC mengatakan, setidaknya 2 juta orang terinfeksi oleh bakteri yang tahan antibiotik dan 23.000 orang telah meninggal karena infeksi tersebut.

Sumber : Merdeka.com

Obat Generik Penurun Kolesterol Lebih Disarankan

Obat Generik Penurun Kolesterol Lebih Disarankan
Kadar kolesterol yang tinggi merupakan faktor risiko penyakit jantung yang perlu diwaspadai. Selain mengubah pola makan dan kebiasaan olahraga, mengonsumsi obat juga menjadi cara untuk menurunkan kadar kolesterol. Penelitian menunjukkan, obat generik penurun kolesterol lebih disarankan. 

Studi yang dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine menemukan bahwa perbedaan harga antara obat penurun kolesterol jenis statin yang generik dan yang paten berpengaruh besar dalam kepatuhan pasien mengonsumsi obat. 

Orang yang mengonsumsi obat generik penurun kolesterol ternyata lebih konsisten minum obat secara teratur sehingga mereka terhindar dari penyakit jantung dan pembuluh darah. Sebaliknya dengan orang yang memilih obat paten. 

"Perbedaan antara obat statin yang generik dan yang paten sangat terkait dengan biaya yang lebih rendah, tingkat kepatuhan, dan hasil akhirnya secara klinis," tulis para peneliti. 

Dalam studi ini para peneliti mengamati 90.000 pasien berusia lebih dari 65 tahun. Pasien yang minum obat penurun kolesterol generik ternyata lebih patuh dalam menjalani pengobatannya. Perbedaan harga berperan penting dalam hal ini.

Namun tentu saja penelitian ini tidak bisa diseragamkan untuk setiap populasi. Mereka yang memiliki pendapatan lebih besar atau dilindungi oleh asuransi kesehatan mungkin juga akan memiliki kepatuhan yang tinggi dalam mengonsumsi obat paten.

Sumber : Merdeka.com

Sabtu, 04 Oktober 2014

Apa Bedanya Olahraga dan Aktivitas Fisik?

Apa Bedanya Olahraga dan Aktivitas Fisik?
Agar sehat dan terhindar dari penyakit kronis, kita disarankan untuk aktif secara fisik. Namun, cukupkah hanya melakukan aktivitas fisik sehari-hari, seperti menyapu atau mencuci mobil, jika tak sempat berolahraga? 

Aktivitas fisik merujuk kepada gerakan yang membutuhkan kontraksi otot. Setiap kegiatan sehari-hari seperti naik tangga, berkebun, membereskan rumah, adalah contoh dari aktivitas fisik.

Sementara itu olahraga adalah bentuk khusus dari aktivitas fisik, yang terencana dan sengaja dilakukan untuk menyehatkan badan. Contohnya adalah senam, renang, bersepeda, dan sebagainya.

Menurut David Bassett, Jr., PhD, profesor bagian studi waktu luang dan olahraga di Universitas Tennessee, kebanyakan aktivitas fisik dikategorikan ringan sampai moderat. Padahal, untuk mendapatkan manfaat kesehatan yang lebih besar, seperti kesehatan jantung, diperlukan aktivitas fisik yang berat. 

"Joging atau berlari punya manfaat yang baik untuk jantung dibanding berjalan santai," katanya.

Meningkatkan kebugaran juga tak hanya tergantung dari seberapa berat aktivitas fisik yang dilakukan, tapi seberapa rutin dan energetik aktivitas itu. Itu sebabnya, saat olahraga kardio kita perlu mencapai target detak jantung untuk meraih tingkat intensitas tertentu.

Intensitas

Lantas bagaimana mengukur berat ringannya sebuah latihan? Bila Anda masih bisa mengobrol saat melakukannya, berarti intensitasnya masih ringan. Akan tetapi bila setelah mengucap beberapa kata Anda harus berhenti untuk mengambil napas, latihan tersebut sifatnya berat. 

Salah satu contohnya adalah bermain tenis ganda yang bisa dianggap olahraga moderat. Tapi saat Anda bermain tunggal, maka itu menjadi lebih berat. Intinya bukan sekadar pada pilihan aktivitasnya, tapi seberapa banyak stamina yang diperlukan.

Sebuah latihan olahraga yang ideal harus meningkatkan kerja dari beberapa komponen tubuh, antara lain:

1. Ketahanan kardiorespirasi(jantung dan paru-paru)
Tingkatkan kemampuan jantung dan paru-paru Anda dengan aktivitas seperti jalan cepat, jogging, berlari, bersepeda, berenang, lompat tali, mendayung, atau ski. Setelah mencapai target tertentu, naikkan target tersebut di latihan selanjutnya. Anda juga dapat mengganti variasi olahraganya agar tidak bosan dan terus tertantang.

2. Kekuatan otot
Latihan yang paling efektif untuk otot adalah mengangkat beban. Anda bisa sekadar mengangkat barbel atau menggunakan mesin angkat beban seperti di gym.

3. Ketahanan otot
Aktivitas seperti senam, latihan beban, berlari, atau berenang dapat meningkatkan ketahanan otot.

4. Kelenturan
Stretching atau peregangan sebagai bagian dari olahraga membantu Anda memiliki badan yang lentur. Alternatif khusus lainnya adalah yoga atau pilates.

Jika Anda merasa seluruh komponen latihan ini sulit dicapai sekaligus, lakukan secara bertahap lewat kebiasaan sehari-hari. Meningkatkan aktivitas fisik setiap hari bisa membuat Anda bisa memiliki tubuh yang lebih bugar sehingga makin lama intensitasnya bisa ditingkatkan.

Sumber : Merdeka.com